Pengorbanan Sebagai Ekspresi Cinta

Muharini Aulia - Psikologi Remaja 31/07/2020
Photo by Tim Mossholder on Unsplash
Photo by Tim Mossholder on Unsplash

Oase.id- Sejak kecil, kita mengenal jenis cinta yang sangat spesial terkemas dalam kisah Nabi Ibrahim As. Rasa cintanya kepada Allah Swt termanifestasi melalui cara berpikir, bertindak, dan berbuat di kesehariannya.

Salah satu ekspresinya yang tercatat oleh sejarah di 10 Zulhijah yang lampau, menginspirasi manusia untuk mendalami makna cinta melalui sebuah pengorbanan. Sejak itu, cinta dan pengorbanan memiliki ikatan yang tidak tampak, namun begitu kuat sehingga sulit terpisahkan.

Waktu berlalu, dan setiap zaman menuliskan kisah cinta terhebat versinya sendiri. Sebut saja Laila-Majnun dan Romeo-Juliet, mereka terpisah jarak dan zaman namun tetap dengan ekspresi cinta yang sama, yang identik dengan sebuah pengorbanan.

Tentunya, kedua kisah fiksi tersebut tidak bisa dikomparasikan dengan kisah Nabi Ibrahim As. Cinta nabi kepada Tuhannya memiliki makna dan ekspresi yang jauh berbeda dengan cinta pada sesama manusia. Namun, pengorbanan telah menjadi bagian dari formulasi cinta yang tidak terelakkan sehingga memandu para pemikir untuk menciptakan kisah cinta yang serupa.

Pesan itu terus tersampaikan hingga saat ini. Kita mengenalnya dalam rangkaian kalimat sederhana, “cinta adalah pengorbanan."

Konsep yang diwariskan dari masa ke masa ini tentunya akan disertai perubahan akibat pengalaman dan pemaknaan yang berbeda-beda. Belum lagi, setiap orang memiliki model mentalnya masing-masing dalam memahami konsep cinta dan pengorbanan.

Di masa kini, mungkin saja seorang perempuan rela mengorbankan mimpi dan kariernya sebagai bentuk ekspresi cinta pada keluarganya. Atau bagi seorang remaja, pengorbanan dalam mencintai ditunjukkan dengan mengorbankan persahabatan demi pasangannya. Beberapa lainnya, menentang keras sebuah pengorbanan yang dilakukan atas dasar cinta.

Baca: Mencapai Aktualisasi Diri dengan Memberi

Bagi mereka, cinta seharusnya menyempurnakan, bukannya melemahkan. Lantas bagaimana posisi pengorbanan dalam proses mencintai?

 

Pengorbanan berbeda dengan pemberian

Saat mencintai seseorang, ada kebutuhan dalam diri kita untuk menyampaikan rasa cinta dan membahagiakan mereka. Seorang ibu membelikan mainan untuk anaknya, seorang teman memberikan bantuan pada temannya, seorang anak menciptakan puisi untuk ayahnya, dan lain sebagainya.

Segala upaya itu adalah sebuah pemberian. Pemberian terhadap orang yang kita cintai dan terhadap diri sendiri.

Kita memberi sesuatu yang dapat membahagiakan orang lain, dan kita memberi kesempatan pada diri sendiri untuk memenuhi kebutuhan mencintai. Namun, apabila seorang ibu memberi mainan untuk anaknya dengan uang yang seharusnya digunakan untuk berobat, maka tindakan memberi itu menjadi sebuah pengorbanan.

Inilah perbedaan antara memberi dan berkorban. Pengorbanan mengkondisikan kita untuk melepaskan apa yang kita sukai, butuhkan, dan cintai (passive sacrifice), atau melakukan sesuatu yang tidak kita sukai, inginkan dan cintai (active sacrifice) untuk kebaikan orang lain.

 

Memberi dan mengorbankan merupakan bentuk dari ekspresi cinta yang diyakini dapat mengantarkan kita ke level cinta yang lebih tinggi. Kurangnya pemahaman atas perbedaan keduanya dapat membuat kita merasa menjadi korban atas segala sesuatu yang kita anggap sebagai pengorbanan, atau merasa kurang dapat mencintai karena menganggap setiap upaya yang kita lakukan belum dapat disebut sebagai pengorbanan.

 

Sebab-sebab pengorbanan

Jika kita dapat mengekspresikan cinta dengan memberi, mengapa harus berkorban?

Ahli Psikologi sosial J.W. Thibaut dan H. Kelley mengungkapkan, terdapat 2 faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan pengorbanan dalam sebuah hubungan, yaitu, komitmen yang dibangun dan keinginan adanya timbal balik pengorbanan yang dilakukan pasangannya. Seseorang dengan komitmen hubungan yang tinggi memiliki kecenderungan lebih besar untuk bersedia berkorban.

Ada kepuasan yang dimunculkan ketika seseorang dapat menegaskan komitmennya melalui sebuah pengorbanan. Pengorbanan dalam sebuah hubungan juga seringkali disertai dengan harapan besar akan sikap serupa yang ditampilkan oleh pasangan. Sebagian orang mau berkorban karena adanya harapan akan pengorbanan yang dilakukan juga untuknya. Harapan ini membuat seseorang merasakan rasa aman karena adanya jaminan timbal balik ketika mereka berkorban dalam sebuah hubungan.

Namun, tidak selamanya pengorbanan yang dilakukan berdampak positif bagi psikologis seseorang.

Coba kita bayangkan bagaimana bila seorang istri mengorbankan fisiknya dengan menerima kekerasan dari suaminya dengan harapan suaminya dapat menyadari pengorbanan yang dilakukan dan tidak meninggalkannya. Dalam situasi ini, ia telah menggunakan pengorbanan sebagai syarat agar terhindar dari penolakan dan kehilangan. Terjadi pergeseran yang signifikan pada konsep awalnya.

Idealnya, pengorbanan adalah ekspresi dari rasa cinta dan bukannya prasyarat untuk tidak kehilangan cinta. Ketika terdapat deviasi dalam pemahaman ini, maka sebuah pengorbanan hanya akan memberikan dampak negatif bagi seseorang.

Baca: White Lies Alias Berbohong untuk Menyenangkan Orang Lain, Bolehkah?

 

Pengorbanan dengan upaya menghindari kehilangan cinta atau rasa tidak nyaman hanya akan membuat kita mengkerdilkan kelayakan diri untuk dicintai. Kita melakukannya dengan rasa takut akan kehilangan sesuatu yang sedang kita upayakan. Kita juga mengambil beban lebih dengan berupaya mengontrol bagaimana seharusnya sikap dan perasaan orang lain terhadap kita.

Selain itu, semakin banyak bentuk pengorbanan bersyarat yang kita berikan, maka semakin besar kemungkinan kita menjadi dependen dalam sebuah hubungan. Hal ini disebabkan oleh besarnya sumber daya diri yang kita serahkan untuk memenuhi persyaratan.

Kita menjadi kurang memiliki kendali dan bergantung pada respon yang akan kita terima. Padahal seharusnya, pengorbanan dilakukan karena komitmen atas cinta yang kita rasakan.

Contohnya, seperti seorang ibu yang berkorban untuk anak-anaknya. Pengorbanannya tidak dimulai dari rasa takut akan kehilangan cinta anak-anaknya. Pengorbanannya adalah ekspresi dari rasa cinta yang dirasakannya.

Pada dasarnya, apapun yang kita korbankan, pengorbanan adalah sebuah proses mental. Kita bukan hanya melepaskan sesuatu yang kita suka atau melakukan sesuatu yang tidak kita suka, tapi juga mengizinkan jiwa kita berproses dengan dinamika rasa yang diciptakan dari proses tersebut.

Sedikit penyimpangan dalam memaknai cinta dan pengorbanan dapat mengubah sepenuhnya dampak dari pengorbanan itu sendiri bagi jiwa kita. Untuk itu dalam mencintai dibutuhkan kesadaran yang penuh sehingga lebih mudah bagi kita untuk memaknai setiap proses dengan sebaik-baiknya.

Emily A. Impett menegaskan pentingnya memahami motif dari pengorbanan yang hendak kita lakukan. Apakah pengorbanan yang kita lakukan berangkat dari dan membuat kita mendapat sesuatu yang positif (positive outcome) atau menghindari sesuatu yang negatif (avoidance).

Apabila kita berkorban untuk menghindari kehilangan atau penilaian negatif dari pasangan kita, maka pengorbanan yang dilakukan akan lebih berpotensi membawa dampak negatif bagi kita.

Mari kembali sejenak pada konsep pengorbanan dalam cinta kepada Allah yang dicontohkan dengan begitu indahnya oleh Nabi Ibrahim As. Kita sebagai umat Muslim juga memiliki pilihan berkurban sebagai upaya mengekspresikan cinta kepada Allah Aqt.

Sebagaimana dijabarkan sebelumnya, sebuah pengorbanan pastinya disertai motif yang melatar belakanginya. Teori behavioristik akan memaknai pengorbanan ini dengan formula sederhana perilaku (berkurban) diperkuat oleh konsekuensi positif (mendapat pahala).

Namun, bila ditelurusi lebih jauh, konsekuensi positif tidak segera diterima setelah kita berkorban. Tidak ada bukti konsekuensi positif yang kita terima secara fisik setelah berkurban. Hal ini menunjukkan adanya motif lain yang menyertai pengorbanan kita, sebuah latar belakang keyakinan yang kita pegang.

Latar belakang ini membuat pengorbanan yang kita lakukan berbuah ketenangan, kepuasan diri, dan kenyamanan dalam diri setelah melakukannya.

Pada akhirnya kita dapat menyepakati bahwa sama dengan memberi, berkorban dapat menjadi ekspresi rasa cinta yang membawa dampak positif bagi kita. Namun, kita perlu berhati-hati dengan motif yang mendasarinya. Jangan lupa untuk bertanya pada diri sendiri, “apa yang sebenar-benarnya membuat saya mau melakukannya?”

 

Rubrik ini diampu Psikolog Remaja Muharini Aulia (@auliyarini). Pertanyaan lebih lanjut bisa dilakukan dengan mengubungi redaksi Oase.id 


(SBH)
Posted by Sobih AW Adnan