Jejak Hijrah Rasulullah: 22 Muslimah Menapaki Perjalanan Suci dari Makkah ke Madinah
Oase.id - Sekelompok 22 Muslimah dari berbagai negara menapaki perjalanan spiritual istimewa dengan menelusuri kembali jejak hijrah Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dari Makkah ke Madinah. Mereka berjalan kaki sejauh hampir 500 kilometer, menyusuri rute yang diyakini paling mendekati jalur hijrah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat lebih dari 1.400 tahun lalu.
Para peserta berasal dari beragam latar belakang, mulai dari profesional, tenaga medis, pendidik, hingga ibu rumah tangga, dengan rentang usia 30 hingga 50-an tahun. Rombongan ini diyakini sebagai kelompok perempuan pertama yang menempuh perjalanan hijrah secara eksklusif dan mendekati rute aslinya.
Perjalanan yang berlangsung selama sekitar sepekan tersebut menjadi pengalaman spiritual yang mendalam. Para peserta berjalan melewati gunung, lembah, dan padang pasir, merasakan langsung beratnya perjuangan hijrah yang pernah dilalui Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersama para sahabatnya.
Direktur Soul Al-Hijrah, Salma Abdulrahman, yang turut mendampingi perjalanan itu, menyampaikan bahwa perjalanan hijrah ini bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan pengalaman ruhani yang membekas dan mengubah kehidupan.
“Ini adalah perjalanan hijrah khusus perempuan yang pertama. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia untuk menempuh perjalanan yang penuh makna sejarah dan spiritual,” ujarnya.
Salma mengaku, perjalanan hijrah tersebut menjadi titik balik dalam hidupnya.
“Di jalan ini saya menemukan kembali jiwa saya. Seolah terlahir kembali. Perjalanan ini menghidupkan hati dan mengubah arah hidup saya,” tuturnya.
Ia menambahkan, hingga kini Soul Al-Hijrah telah memfasilitasi lebih dari 20 perjalanan hijrah, melibatkan peserta dari berbagai negara. Hal ini menunjukkan meningkatnya minat umat Islam terhadap wisata religi berbasis sejarah Islam.
Salah satu peserta, Dr. Dina Altayeb, seorang dokter spesialis dan atlet internasional, menyebut perjalanan ini sebagai pengalaman paling mendalam yang pernah ia jalani.
“Secara fisik mungkin tidak seberat tantangan lainnya, tetapi secara spiritual sangat luar biasa. Ini adalah pengalaman emosional yang sulit diungkapkan dengan kata-kata,” ujarnya.
Rasa haru memuncak saat rombongan akhirnya tiba di Madinah. “Kami melewati gunung, lembah, dan padang pasir sebagaimana yang dilalui Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Ketika sampai di Madinah setelah delapan hari berjalan, perasaannya sangat luar biasa,” kata Dina.
Peserta lain, Ghadeer Sultan, mengaku mengikuti perjalanan tersebut tanpa perencanaan matang. Namun, setibanya di Madinah, ia merasakan ketenangan yang mendalam.
“Saat memasuki kebun yang teduh di Madinah, saya merasakan kedamaian dan cahaya yang menembus jiwa. Seolah merasakan kegembiraan kaum Anshar ketika menyambut kedatangan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,” tuturnya.
Setibanya di Madinah pada akhir Desember, para peserta disambut dengan doa dan taburan bunga. Masjid Quba menjadi tujuan pertama mereka, masjid pertama dalam sejarah Islam yang dibangun atas dasar ketakwaan dan tempat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam singgah saat hijrah.
Perjalanan ini menjadi pengingat bahwa hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perjalanan hati menuju iman, keteguhan, dan kecintaan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
(ACF)