Kisah Hijrah: Perjalanan eks Vokalis Rocket Rockers, Noor al-Kautsar Mencari Ketenangan Batin
Oase.id - Musik pernah menjadi pusat kehidupan Noor al-Kautsar. Pria yang akrab disapa Ucai itu dikenal luas sebagai vokalis band pop-punk asal Bandung, Rocket Rockers. Selama belasan tahun, hidupnya diwarnai tur ke berbagai kota, bahkan hingga mancanegara. Dari luar, kariernya tampak gemilang. Namun di balik sorotan panggung, Ucai menyimpan kegelisahan yang terus tumbuh.
“Orang mungkin ngelihatnya cover-nya, kalau saya ketika nge-band tuh enak, bisa tur Nusantara, Asia, tur Eropa, manggung di mana-mana. Cuman di balik kesenangan-kesenangan itu, dari tahun ke tahun saya punya kegalauan tertentu,” ujar Ucai.
Kegelisahan itu mulai terasa saat aktivitas bermusiknya semakin sering bersinggungan dengan hal-hal yang bertentangan dengan keyakinannya sebagai Muslim. Ia kerap tampil di bar, klub malam, dan tempat hiburan yang menjual minuman keras.
“Saya mikir, saya besok mau manggung menghibur orang, tapi mereka minum, mabuk, dan uang yang saya dapatkan pun dari tempat seperti itu. Saya pikir itu uang yang panas,” katanya.
Keresahan itu bahkan sering menghantuinya di perjalanan. “Kadang di pesawat saya mikir, nauzubillah kalau pesawat ini jatuh, saya lagi dalam perjalanan yang enggak baik, mau cari uang yang enggak halal,” tutur Ucai.
Puncak kegundahan itu terjadi saat sebuah konser di Yogyakarta. Di sebuah klub malam, suasana semakin liar ketika seorang perempuan asing naik ke atas panggung dan melakukan aksi stage diving berulang kali.
“Hati saya makin resah. Suara musik di atas panggung itu lebih kecil daripada suara hati saya. Sampai akhirnya hati saya ngomong, ‘Udah, ini bukan tempat kamu. You don’t belong here,’” kenangnya.
Saat itu, Ucai merasa ada jarak besar antara identitas dirinya dan jalan hidup yang ia jalani. “Nama saya Nur Al Kautsar, tapi kelakuan saya di panggung jauh dari cerminan nama saya,” ucapnya.
Pada 2013, setelah 13 tahun menjadi vokalis band, Ucai memutuskan berhenti. Keputusan hijrah itu bukan diambil secara tiba-tiba. Ia memilih melangkah perlahan.
“Langkah pasti itu step by step. Jangan langsung jebret-jebret, nanti malah enggak seimbang,” katanya.
Ucai mulai mendatangi majelis taklim, belajar kembali membaca Al-Qur’an dari nol, meski harus terbata-bata. Ia bahkan belajar mengaji kepada teman yang usianya lebih muda.
“Ruhiah saya dulu tuh hilang. Saya haus nutrisi ruhiah. Saya perbaiki salat saya, bacaannya ternyata banyak yang salah,” ujarnya.
Baginya, hijrah bukan tentang merasa suci. “Berhijrah itu bukan karena kita merasa bersih, justru karena kita merasa kotor. Makanya kita wudu terus, lima waktu, salat sunah. Karena kita sadar belum tentu doa kita diampuni,” kata Ucai.
Ujian datang silih berganti. Usaha clothing yang ia rintis bangkrut, uang dibawa kabur vendor, tokonya dirampok. Namun semua itu justru ia maknai sebagai teguran.
“Ketika bercermin, benar juga. Harta ini memang harus dihabiskan. Karena uang itu dulu hasil dari manggung di tempat-tempat yang jual minuman keras,” ujarnya. “Kalau Allah mau cabut, cabutlah semuanya.”
Di masa sulit itu, doa seorang ibu menjadi sandaran terkuat. Dalam kondisi sakit dan tanpa kepastian masa depan, Ucai memohon restu ibunya.
“Saya pegang tangan Mama, saya bilang, ‘Mama maafin Uca, selama ini jarang nemenin Mama.’ Saya minta didoain karena sekarang pengin usaha,” kenangnya dengan suara lirih.
Dari doa itulah, Ucai bangkit kembali. Ia memulai usaha sepatu, membangun hidup baru dari nol. Allah, menurutnya, masih memberinya jalan yang tak jauh dari mikrofon.
“Dulu mic buat nyanyi, sekarang mic buat sharing,” ujarnya. Kini Ucai rutin berbagi kisah hijrahnya ke sekolah, kampus, dan masjid.
Ia menyadari dirinya bukan ustaz dan bukan lulusan pendidikan agama. Namun ia merasa diberi amanah untuk berbagi pengalaman.
“Hiburan itu kelihatan gemerlap dari luar, tapi enggak selalu indah di dalam,” katanya.
Bagi Ucai, hijrah adalah tentang keikhlasan menjalankan apa yang Allah cintai. “Dulu kita loyal sama passion kita. Sekarang kita harus tanya, kapan kita loyal sama Allah?” ujarnya.
Ia menutup kisahnya dengan satu pesan sederhana: “Hijrah itu istimewa, tapi lebih istimewa lagi kalau kita bisa istiqamah.”
(ACF)