Beramal, Lebih Baik Dirahasiakan atau Dipublikasi? : Konsep Ashabus Sirri dan Al-Akhfiya
Oase.id - Di tengah derasnya arus media sosial, satu pertanyaan kerap muncul di benak kaum Muslimin: lebih utama mana, beramal secara diam-diam atau mempublikasikannya? Apakah membagikan aktivitas ibadah termasuk bagian dari dakwah, atau justru berisiko menggerus keikhlasan?
Jauh sebelum era digital hadir, para ulama telah membahas persoalan ini secara mendalam.
Siapa Itu Ashabus Sirri?
Seperti diterangkan oleh Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A, seorang pendakwah di RodjaTV, dalam karya-karyanya, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah ketika menjelaskan perkataan Abu Ismail al-Harawi menyebut istilah Ashabus Sirri, yakni orang-orang yang merahasiakan amalannya.
Mereka dikenal sebagai Al-Akhfiya—orang-orang yang tersembunyi. Tidak dikenal luas, tidak sibuk membangun citra, dan tidak tertarik menjadi pusat perhatian. Namun justru di sisi Allah, mereka memiliki kedudukan yang tinggi. Amal mereka sunyi dari sorotan manusia, tetapi bercahaya di langit.
Konsep ini ditegaskan dalam hadits Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Kisah Sa’ad bin Abi Waqqas: Menjauh dari Sorotan
Dalam sebuah riwayat, putra dari Sa'ad bin Abi Waqqas radhiyallahu ‘anhu pernah berkata kepada ayahnya:
أَنْتَ هَاهُنَا وَالنَّاسُ يَتَنَازَعُونَ فِي الْإِمَارَةِ
“Wahai ayahku, Anda masih di sini sementara orang-orang sedang memperebutkan kedudukan.”
Sebagai sahabat besar yang termasuk sepuluh orang yang dijamin surga, Sa’ad tentu memiliki peluang besar untuk berada di garis depan kekuasaan. Namun beliau memilih menjauh dari hiruk-pikuk ambisi dunia. Jawaban beliau sederhana namun dalam. Ia mengutip sabda Rasulullah ﷺ:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ
“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, yang kaya (hatinya), dan yang tersembunyi (tidak menonjolkan diri).”
Hadits ini menjadi fondasi tentang kemuliaan menjadi hamba yang tidak mencari sorotan.
Makna Tersembunyi yang Dicintai Allah
Dalam hadits tersebut, Rasulullah ﷺ menyebut tiga sifat yang dicintai Allah. Hamba yang bertakwa adalah mereka yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh kesadaran, bukan demi penilaian manusia, tetapi semata-mata mengharap ridha-Nya. Ia menjadikan syariat sebagai pedoman hidup, bukan sebagai alat pencitraan.
Kemudian disebutkan sifat kaya. Kekayaan yang dimaksud bukanlah limpahan harta, melainkan kekayaan hati. Ia merasa cukup dengan Allah. Tidak haus pujian, tidak gelisah bila tidak dikenal, dan tidak kecewa ketika amalnya tidak diketahui siapa pun.
Adapun sifat tersembunyi adalah keadaan di mana seseorang tidak berambisi menonjolkan dirinya. Ia tidak sibuk memperlihatkan amalnya, tidak mencari panggung, dan tidak merasa perlu mengumumkan setiap kebaikan yang dilakukan. Ia tetap berdakwah dan berbuat baik, tetapi menjaga agar hatinya tidak terikat pada apresiasi manusia.
Menjaga Ketulusan di Era Media Sosial
Di zaman sekarang, tantangan menjaga keikhlasan semakin besar. Media sosial memudahkan siapa saja untuk mempublikasikan hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk ibadah. Sedekah yang diberikan, tahajud yang dikerjakan, tilawah yang diselesaikan, hingga momen-momen spiritual yang seharusnya menjadi rahasia antara hamba dan Rabb-nya, bisa dengan mudah tersebar luas.
Tidak semua publikasi salah. Ada kalanya menampakkan amal dapat memotivasi orang lain dan menjadi sarana dakwah. Namun bahaya yang mengintai adalah perubahan orientasi hati secara perlahan. Dari yang semula ingin mencari ridha Allah, bergeser menjadi menanti pengakuan manusia. Dari yang awalnya tulus, berubah menjadi ingin dipuji.
Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan bahwa Allah mencintai hamba yang bertakwa, kaya hati, dan tersembunyi. Hamba yang tidak menjadikan popularitas sebagai tujuan, dan tidak menjadikan eksistensi digital sebagai ukuran keberhasilan ibadahnya.
Memilih Jalan Sunyi
Pada akhirnya, pertanyaan tentang lebih baik dirahasiakan atau dipublikasikan kembali kepada kondisi hati masing-masing. Namun para ulama banyak menasihatkan bahwa amal yang tersembunyi lebih aman bagi jiwa. Ia menjadi simpanan rahasia yang kelak sangat berharga ketika manusia berdiri sendiri di hadapan Allah.
Menjadi Ashabus Sirri berarti memilih jalan sunyi di tengah dunia yang gemar pamer kebaikan. Tidak selalu dikenal, tidak selalu disebut, tetapi dikenal oleh Allah di langit.
Dan boleh jadi, justru amal-amal yang tidak pernah diketahui manusia itulah yang paling berat timbangannya di akhirat kelak.
(ACF)