Etika Melihat Jenazah dalam Islam: Saat Hati Diingatkan tentang Akhir Kehidupan

N Zaid - Jenazah 28/04/2026
Ilustrasi. Foto: Unsplash
Ilustrasi. Foto: Unsplash

Oase.id - Ada momen-momen tertentu dalam hidup yang seolah menghentikan langkah manusia. Salah satunya adalah ketika melihat jenazah. Suasana hening, wajah-wajah yang tertunduk, dan tubuh tak bernyawa yang terbujur. Semuanya membawa satu pesan yang tidak bisa diabaikan bahwa kehidupan ini sementara.

Dalam Islam, momen ini bukan sekadar peristiwa sosial, melainkan saat yang penuh makna spiritual. Syariat pun mengajarkan adab-adab khusus ketika seorang Muslim melihat jenazah, agar peristiwa itu benar-benar menjadi pengingat, bukan sekadar tontonan.

Berdiri sebagai Bentuk Penghormatan

Ketika iring-iringan jenazah melintas, Rasulullah ﷺ mengajarkan sikap yang sederhana namun penuh makna: berdiri.

Beliau bersabda:

“Jika kalian melihat jenazah, maka berdirilah. Dan barangsiapa mengikutinya, jangan duduk sampai jenazah itu diletakkan.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Perintah ini bukan tanpa alasan. Berdiri di hadapan jenazah adalah bentuk penghormatan, bukan hanya kepada orang yang wafat, tetapi juga kepada ketetapan Allah yang telah menjemputnya. Para ulama menjelaskan, di dalamnya terdapat pengagungan terhadap kekuasaan Allah yang mencabut nyawa setiap makhluk.

Bahkan dalam beberapa riwayat, Rasulullah ﷺ tetap berdiri ketika jenazah non-Muslim lewat. Saat ditanya, beliau menjawab bahwa itu adalah “jiwa manusia”, menunjukkan betapa Islam menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Mengingatkan Bahwa Semua Akan Kembali

Melihat jenazah sejatinya adalah momen untuk bercermin. Tubuh yang hari ini diam itu, kemarin masih berjalan, berbicara, dan berencana. Besok, bisa jadi giliran kita.

Allah SWT mengingatkan dalam firman-Nya:

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.”

(QS. Ali Imran: 185)

Ayat ini terasa begitu nyata ketika seseorang berdiri di hadapan jenazah. Ia bukan lagi sekadar teks yang dibaca, tetapi kenyataan yang sedang disaksikan. Karena itu, para ulama menganjurkan agar momen ini digunakan untuk merenung, memperbaiki diri, dan mengingat akhir perjalanan hidup.

Mengagungkan Allah dengan Doa

Dalam keheningan itu, lisan seorang Muslim dianjurkan tetap hidup—bukan dengan obrolan, tetapi dengan dzikir.

Di antara doa yang dianjurkan adalah:

“Subhanal hayyil ladzi laa yamuut”

(Mahasuci Allah Yang Maha Hidup dan tidak akan mati)

Kalimat ini sederhana, namun dalam maknanya. Ia menegaskan bahwa manusia akan mati, sementara Allah Maha Kekal. Sebuah pengakuan yang menundukkan hati dan mengikis kesombongan.

Menjaga Lisan dari Keburukan

Seringkali, setelah seseorang meninggal, justru aibnya menjadi bahan pembicaraan. Padahal Islam dengan tegas melarang hal ini.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebutlah kebaikan-kebaikan orang yang telah meninggal dan tahanlah dari menyebut keburukan mereka.”

(HR. Tirmidzi)

Hadits ini menjadi penjaga bagi lisan seorang Muslim. Jika tidak mampu berkata baik, maka diam lebih utama. Jenazah bukan lagi tempat menghakimi, melainkan tempat mengambil pelajaran.

Menghormati, Bukan Meremehkan

Islam memandang jenazah dengan penuh kemuliaan. Tubuh manusia, meski telah kehilangan ruh, tetap memiliki kehormatan. Karena itu, tidak dibenarkan bersikap meremehkan, mengolok, atau memperlakukan jenazah dengan tidak pantas.

Sikap Rasulullah ﷺ yang tetap menghormati jenazah, bahkan yang bukan Muslim, menunjukkan bahwa adab ini melampaui batas identitas—ia adalah bentuk penghormatan terhadap ciptaan Allah.

Kesungguhan Mengantar Hingga Akhir

Bagi mereka yang ikut mengiringi jenazah, adabnya lebih dalam lagi. Rasulullah ﷺ melarang duduk sebelum jenazah diletakkan di tanah.

“Barangsiapa mengikuti jenazah, janganlah ia duduk sampai jenazah itu diletakkan.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Ini adalah bentuk kesungguhan dalam mengantar saudara seiman menuju peristirahatan terakhirnya. Bukan sekadar hadir, tetapi benar-benar membersamai hingga akhir.

Hikmah yang Menghidupkan Hati

Di balik semua adab ini, tersimpan hikmah yang besar. Melihat jenazah dapat:

Mengingatkan bahwa kematian itu pasti

Melembutkan hati yang keras

Mendorong untuk segera bertaubat

Mengurangi keterikatan berlebihan pada dunia

Karena pada akhirnya, setiap manusia sedang berjalan menuju titik yang sama.

 

 

 


(ACF)
TAGs:
Posted by Achmad Firdaus