29 Januari 661: Kepemimpinan Khulafaur Rasyidin Berakhir

Sobih AW Adnan - On This Day 29/01/2020
Photo by ‏Fi Aenillah on Unsplash
Photo by ‏Fi Aenillah on Unsplash

Oase.id- Udara Kufah, Irak teramat dingin. Perpindahan malam ke fajar terasa begitu pelan. Hingga tiba-tiba terdengar teriakan dari luar, sang muazin Ibnu Nabbah mengetuk pintu rumah Khalifah Ali bin Abi Thalib sembari mengingatkan, "Salat! Salat! Salat!"

Ali menyambut dan segera melangkah. Sesampainya di depan pintu, ia pun turut berkata, "Wahai kaum Muslimin, salatlah!"

Kala itu, kalender menunjukkan penanggalan 19 Ramadan tahun ke-49 Hijriah atau 27 Januari 661 Masehi. Sebuah hari kala Ali harus lunglai ditebas pedang beracun yang diayunkan Abdurrahman bin Muljam saat hendak mengimami Subuh bersama jemaah. 

Abu Al-Faḍl Abd Al-Raḥman bin Abi Bakr atau masyhur dengan nama Imam As-Suyuti dalam Tarikh Al-Khulafa menceritakan, Ali mengalami luka di bagian muka, kening, hingga menembus ke jaringan otak.

Sepupu Rasulullah ini memang sempat bertahan, akan tetapi kesyahidan menjemputnya pada 29 Januari atau dua hari setelah kejadian.


Penyebab tragedi

Pada mulanya, pembunuh Ali bernama Abdurrahman bin Muljam Al-Muradi itu dikenal sebagai pengikut militan. Di lingkungan sekitarnya, dia kerap disebut sebagai laki-laki yang siangnya dihiasi ibadah dan berpuasa, sementara malamnya dipenuhi zikir dan gerakan salat-salat sunah.

Awal pembelotan sosok yang juga penghafal Al-Quran ini dimulai ketika Ali berkonflik dengan Muawiyah bin Abi Sufyan ihwal posisi khalifah pengganti Usman bin Affan. Ali, yang lebih menginginkan untuk menghindari pertumpahan darah di tengah umat Islam, memilih menyepakati sebuah perundingan.

Akan tetapi, di pertemuan gencatan senjata Dumatul Jandal itulah yang akhirnya membuat Ali kalah.

Ibnu Muljam kecewa. Ia menganggap sang khalifah telah mengingkari Al-Quran karena sudah berani memutuskan hukum berdasarkan hasil rapat manusia. Di tengah kelompok yang memiliki perasaan yang serupa, ia pun bersumpah akan membunuh tiga orang yang dianggapnya sebagai biang masalah, yakni Muawiyah bin Abi Sufyan, juru bicara pihak Muawiyah bernama Amr bin Ash, juga Ali bin Abi Thalib sendiri. 

Masih dalam kitab yang sama, dengan mengutip Al-Mustadrak, Imam Sayuti juga mengutarakan penyebab lain munculnya dendam di benak Ibnu Muljam.

"Abdurrahman bin Muljam sedang jatuh cinta kepada perempuan bernama Qatham. Wanita itu berkenan dinikahi Ibnu Muljam dengan syarat mahar uang tiga ribu dirham, seorang budak, dan pembunuhan Ali," tulis Imam Sayuti.

Dalam beberapa literartur dijelaskan, perempuan bernama lengkap Qatham binti Asy-Syijnah itu juga menyimpan dendam. Ayah dan kakaknya terbunuh ketika Ali bermaksud membersihkan para pembelot di peperangan Nahrawan.


Keistimewaan Khulafaur Rasyidin

Jauh sebelum Rasululllah Muhammad Saw wafat, kepada para sahabatnya Nabi pernah bersabda;

 

"Hendaknya kalian mengikuti sunahku dan sunah para khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk setelah aku." (HR. Al-Hakim).

Berdasarkan hadis tersebut dan perjalanan sejarah penyebaran Islam, sebagian besar umat Muslim menganggap bahwa kriteria khulafaur rasyidin yang dimaksud Rasulullah hanya pas diberikan kepada 4 orang. Yakni, Abu Bakar As-Shidiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

Nabi, memang tidak pernah mewasiatkan dengan menunjuk langsung orang-orang yang berhak memimpin umat Islam setelah beliau wafat. Dalam sebuah hadis dikisahkan, Rasulullah Saw pernah ditanya para sahabatnya.

"Wahai Rasulullah, tidak kah engkau menunjuk pengganti yang akan memimpin kami sepeninggalmu nanti?"

Mendengar pertanyaan itu, Nabi menjawab;

"Sesungguhnya jika aku menunjuk penggantiku, aku khawatir kalian akan menentang penggantiku itu dan Allah akan menurunkan azab atas kalian." (HR. Al-Hakim)

Sementara kemunculan 4 nama pengganti di atas hanya berdasarkan beberapa isyarat yang pernah diungkapkan Nabi. 

Imam Al-Bukhari dalam hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Jamhan dan Safinah menceritakan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda terkait profil Abu Bakar, Umar, dan Utsman;

"Mereka adalah khalifah setelah aku." (HR. Bukhari)

Akan tetapi, Al-Bukhari dalam At-Tarikh al-Kabir menyebut hadis itu tidak bisa diikuti karena Umar, Ali, dan Utsman mengatakan Rasulullah memang tidak menentukan penggantinya setelah wafat.

Isyarat lainnya adalah berdasarkan hadis Nabi yang diriwayatkan Abu Daud Ath-Thayalisi dalam Musnad-nya yang menyebutkan bahwa Rasulullah pernah bersabda;

"Para imam itu dari golongan Quraisy. Jika mereka memimpin, maka mereka adil. Jika berjanji, pasti ditepati, dan jika dimintai kasih sayang, mereka akan memberikan."

Masa kekhalifahan Rasyidin memang sebagai penanda berkembangnya agama Islam menjadi kian pesat. Mereka telah menebarkan pengaruhnya dari Jazirah Arab, sampai ke Levant, Kaukasus, Afrika Utara, hingga ke dataran tinggi Iran dan Asia Tengah.

Berikut adalah daftar khalifah dan periode kepemimpinan Khulafaur Rasyidin;

- Abu Bakar As-Shidiq (8 Juni 632–22 Agustus 634)

- Umar bin Khattab (23 Agustus 634–3 November 644) 

- Utsman bin Affan (11 November 644–20 Juni 656)

- Ali bin Abi Thalib (20 Juni 656–29 Januari 661)

Dengan berakhirnya kekhalifahan Ali, berakhir pula sebutan Khulafaur Rasyidin dalam sejarah perkembangan dunia Islam. 
 

Sumber: Disarikan dari kisah dalam Tarikh Al-Khulafa karya Abu Al-Faḍl Abd Al-Raḥman bin Abi Bakr As-Suyuti, keterangan dalam Tarikh Al Kabir karya Al-Bukhari, beberapa hadis dari Musnad Abu Daud Ath-Tayalisi.


(SBH)
TAGs:
Posted by Sobih AW Adnan