Setan Dibelenggu di Bulan Ramadan: Benarkah Tak Ada Godaan?

N Zaid - Ramadan 15/02/2026
Setan Dibelenggu di Bulan Ramadan: Benarkah Tak Ada Godaan? Foto: Pixabay
Setan Dibelenggu di Bulan Ramadan: Benarkah Tak Ada Godaan? Foto: Pixabay

Oase.id - Setiap kali Ramadan tiba, umat Islam menyambutnya dengan keyakinan bahwa bulan ini membawa suasana yang berbeda. Ibadah terasa lebih ringan, hati lebih tenang, dan semangat berbuat baik meningkat. Salah satu sabda Nabi ﷺ yang paling sering dikutip tentang keutamaan Ramadan adalah pernyataan bahwa setan-setan dibelenggu.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila datang bulan Ramadan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” Hadis ini diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari (no. 1899) dan Sahih Muslim (no. 1079), dua kitab hadis paling sahih dalam tradisi Islam. Statusnya yang sahih menjadikan hadis ini sebagai landasan kuat dalam memahami kemuliaan bulan Ramadan.

Namun, bagaimana sebenarnya makna “dibelenggu”? Apakah seluruh setan benar-benar tidak dapat menggoda manusia selama Ramadan?

Para ulama memberikan penjelasan yang lebih mendalam. Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa yang dibelenggu adalah maradah asy-syayathin, yaitu setan-setan yang paling durhaka dan kuat pengaruhnya. Imam Al-Nawawi dalam Syarh Sahih Muslim menjelaskan bahwa peristiwa ini merupakan tanda keutamaan Ramadan dan bentuk kemuliaan yang Allah berikan kepada bulan tersebut. Menurutnya, dibelenggunya setan bisa dipahami secara hakiki—benar-benar dibatasi geraknya oleh Allah—atau dipahami sebagai isyarat bahwa pengaruh dan godaan mereka menjadi jauh lebih lemah.

Faktanya, meskipun Ramadan dikenal sebagai bulan penuh keberkahan, masih ada saja kemaksiatan yang terjadi. Hal ini tidak serta-merta bertentangan dengan hadis tersebut. Sebab, manusia tetap memiliki hawa nafsu, kebiasaan buruk, dan dorongan internal yang bisa menjerumuskannya pada kesalahan. Dengan kata lain, meskipun godaan setan melemah, tanggung jawab moral manusia tetap ada.

Justru di sinilah letak hikmahnya. Ramadan menghadirkan atmosfer spiritual yang lebih bersih. Pintu-pintu kebaikan dibuka lebar, sementara pintu keburukan dipersempit. Allah memberikan kesempatan luas bagi hamba-Nya untuk bertobat, memperbanyak ibadah, dan memperbaiki diri tanpa tekanan godaan sebesar bulan-bulan lainnya.

Karena itu, hadis tentang setan dibelenggu bukan sekadar informasi teologis, tetapi juga dorongan moral. Ramadan adalah momentum emas untuk membuktikan bahwa ketika pengaruh setan dilemahkan, manusia seharusnya lebih mudah memilih jalan ketaatan. Jika masih terjatuh dalam dosa, maka itu menjadi bahan muhasabah bahwa yang perlu diperbaiki bukan hanya lingkungan, tetapi juga diri sendiri.

Dengan memahami hadis ini secara utuh berdasarkan dalil sahih dan penjelasan ulama, kita dapat melihat Ramadan bukan hanya sebagai ritual tahunan, melainkan sebagai fase penyucian jiwa yang nyata. Bulan ini adalah peluang besar untuk membangun kembali kedekatan dengan Allah, sebelum pintu-pintu keberkahan itu kembali tertutup saat Ramadan berlalu.


(ACF)
TAGs:
Posted by Achmad Firdaus