Shabana Mahmoud, Peluangnya Menjadi Perdana Menteri Muslim Pertama Inggris Menguat

N Zaid - Tokoh Islam 13/02/2026
Shabana Mahmoud. Foto: tmv.in
Shabana Mahmoud. Foto: tmv.in

Oaese.id - Nama Menteri Dalam Negeri Inggris, Shabana Mahmood, mulai ramai dibicarakan sebagai calon kuat pengganti Perdana Menteri Keir Starmer. Wacana ini menguat di tengah tekanan politik besar yang dihadapi Starmer akibat dampak skandal yang menyeret nama Peter Mandelson dan terpidana kejahatan seksual Jeffrey Epstein.

Jika benar terjadi pergantian kepemimpinan dan Mahmood terpilih, ia berpotensi mencatat sejarah sebagai perdana menteri Muslim pertama di Inggris.

Tekanan Politik terhadap Starmer Meningkat

Kontroversi bermula dari penunjukan Mandelson sebagai duta besar Inggris untuk Amerika Serikat oleh Starmer. Penunjukan itu menuai kritik karena Mandelson dikaitkan dengan Epstein. Sejumlah dokumen lama memunculkan kembali tuduhan serius, termasuk dugaan pertukaran informasi sensitif dengan imbalan tertentu.

Tekanan terhadap Starmer makin besar setelah dua pembantu utamanya mengundurkan diri, yakni kepala staf dan direktur komunikasinya. Sejumlah tokoh politik internal partai juga mulai menyuarakan agar Starmer mundur demi menjaga stabilitas pemerintahan dan pelayanan publik.

Meski demikian, Starmer menyatakan tetap bertahan dan tidak akan meninggalkan jabatannya. Ia menegaskan komitmennya untuk terus memimpin negara.

Figur Muslim yang Makin Disorot

Di tengah situasi tersebut, nama Shabana Mahmood mencuat sebagai figur penerus potensial. Ia dikenal sebagai politisi senior di Labour Party dan saat ini memegang salah satu jabatan paling strategis di kabinet.

Mahmood mendapat sorotan karena gaya kepemimpinan yang tegas, khususnya dalam isu imigrasi dan penegakan hukum. Sikapnya membuat ia didukung sebagian kalangan, namun juga menuai kritik dari pihak lain.

Bagi banyak pengamat, latar belakang Mahmood sebagai Muslim dan anak keluarga migran dinilai dapat memperluas jangkauan dukungan politik serta menghadirkan representasi baru bagi komunitas minoritas di Inggris.

Jalan Menuju Kursi Perdana Menteri Tidak Mudah

Meski namanya menguat, proses mengganti perdana menteri di Inggris tidak sederhana. Tidak ada mekanisme pemungutan suara tidak percaya khusus di internal Partai Buruh untuk langsung mengganti pemimpin. Penantang harus mengantongi dukungan minimal seperlima anggota parlemen dari partainya untuk memicu kontestasi kepemimpinan.

Beberapa nama lain juga disebut sebagai kandidat, namun masing-masing menghadapi tantangan dan beban isu tersendiri. Karena itu, hingga kini belum ada konsensus kuat soal siapa yang benar-benar paling siap menggantikan Starmer.

Perkembangan ini terus menjadi perhatian, termasuk bagi komunitas Muslim global, karena berpotensi menghadirkan babak baru kepemimpinan Muslim di panggung politik tingkat tinggi Eropa.(tmv)


(ACF)
TAGs:
Posted by Achmad Firdaus