Apa Perbedaan Nabi dan Rasul? Simak Penjelasannya

N Zaid - Kisah Nabi dan Rasul 17/01/2026
Apa Perbedaan Nabi dan Rasul? Simak Penjelasannya. Foto: Pixabay
Apa Perbedaan Nabi dan Rasul? Simak Penjelasannya. Foto: Pixabay

Oase.id  - Banyak umat Islam masih mengira bahwa nabi dan rasul adalah dua istilah yang sepenuhnya sama. Padahal, dalam ajaran Islam, keduanya memiliki perbedaan mendasar meskipun saling berkaitan. Para ulama sepakat bahwa setiap rasul pasti seorang nabi, tetapi tidak semua nabi berstatus sebagai rasul. Penjelasan ini didasarkan pada dalil Al-Qur’an, hadits sahih, serta keterangan para ulama.

Salah satu ayat Al-Qur’an yang menegaskan adanya perbedaan tersebut menyebutkan bahwa Allah tidak pernah mengutus seorang rasul maupun nabi sebelum Nabi Muhammad. Ayat ini menunjukkan bahwa nabi dan rasul adalah dua kedudukan yang berbeda, meskipun sama-sama menerima wahyu.

Penegasan serupa juga terlihat dalam kisah Nabi Musa. Dalam Al-Qur’an, Musa disebut secara khusus sebagai seorang nabi sekaligus rasul. Penyebutan ganda ini memberi isyarat bahwa tidak semua nabi otomatis menyandang status rasul.

Perbedaan Nabi dan Rasul Menurut Ulama

Para ulama menjelaskan perbedaan nabi dan rasul dari beberapa sisi penting.

Pertama, dari cara menerima wahyu.

Rasul menerima wahyu secara langsung melalui perantaraan Malaikat Jibril dalam keadaan sadar. Sementara itu, nabi bisa menerima wahyu dalam bentuk ilham atau mimpi yang benar. Meski sama-sama berasal dari Allah, cara penyampaiannya berbeda.

Kedua, dari tanggung jawab menyampaikan wahyu.

Sebagian ulama menjelaskan bahwa rasul menerima wahyu sekaligus diperintahkan untuk menyampaikannya kepada umatnya secara terbuka. Adapun nabi menerima wahyu untuk diamalkan, tetapi tidak selalu dibebani kewajiban menyampaikan dakwah kepada masyarakat luas. Ibnu Abil ‘Iz Al-Hanafi menjelaskan bahwa jika seseorang menerima wahyu dan diperintahkan untuk menyampaikannya, maka ia adalah nabi sekaligus rasul. Namun jika tidak diperintahkan menyampaikannya, maka ia adalah nabi, bukan rasul.

Ketiga, dari tugas dan misi yang dibawa.

Rasul diutus dengan membawa syariat baru yang menjadi pedoman umatnya. Sementara nabi diutus untuk melanjutkan dan menegakkan syariat yang telah dibawa oleh rasul sebelumnya. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa para rasul diutus secara berturut-turut kepada umat manusia, meskipun banyak yang akhirnya didustakan.

Keempat, dari kondisi umat yang dihadapi.

Menurut penjelasan Ibnu Taimiyah, rasul biasanya diutus kepada kaum yang menentang dan menolak dakwah. Sebaliknya, nabi diutus kepada umat yang cenderung menerima ajaran dan tidak melakukan penentangan besar. Hal ini terlihat dari kisah Nabi Nuh yang diutus sebagai rasul kepada kaum yang membangkang, sementara Nabi Adam dan Nabi Idris tidak berstatus sebagai rasul.

Kelima, dari sifat dan kedudukan.

Rasul adalah manusia pilihan yang diberi mukjizat sebagai bukti kerasulan dan teladan bagi umatnya. Mereka berasal dari keturunan yang mulia dan memiliki misi besar dalam membimbing manusia. Adapun nabi tetap manusia biasa dalam kehidupan sehari-hari, namun dianugerahi sifat-sifat mulia dan keistimewaan khusus dari Allah.

Keenam, dari kitab suci dan syariat.

Ali bin Sultan Al-Qari menjelaskan bahwa rasul adalah sosok yang diturunkan kitab suci kepadanya dan membawa syariat yang berdiri sendiri, lengkap dengan mukjizat. Sementara nabi tidak menerima kitab baru dan hanya mengajak umatnya untuk mengikuti syariat rasul sebelumnya.

Dari berbagai penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa perbedaan nabi dan rasul dalam Islam terletak pada tugas, tanggung jawab, dan misi yang diemban. Rasul memiliki kewajiban dakwah dan membawa syariat baru, sedangkan nabi melanjutkan ajaran yang sudah ada. Pemahaman ini penting agar umat Islam tidak menyamakan dua kedudukan mulia tersebut secara keliru.


(ACF)
Posted by Achmad Firdaus