Inovasi Pelajar Madrasah: Permen Herbal Berbahan Ketnip untuk Kualitas Tidur Lebih Baik

N Zaid - Pendidikan 17/01/2026
Foto: Kemenag
Foto: Kemenag

Oase.id - Siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 13 Jakarta menorehkan prestasi melalui pengembangan produk inovatif berupa permen herbal bernama Cimanis, yang ditujukan untuk membantu mengurangi insomnia ringan dan memperbaiki kualitas tidur di kalangan remaja. Inovasi ini dipaparkan dalam ajang Global Innovation and Entrepreneurship Festival (GIEF) yang digelar di Kampus IPB, Bogor, pada Jumat (16/1/2026).

Produk Cimanis lahir dari kepedulian para siswa terhadap semakin maraknya gangguan tidur di usia remaja. Pola hidup tidak teratur, kebiasaan begadang, intensitas penggunaan gawai yang tinggi, hingga tekanan akademik dinilai berkontribusi terhadap menurunnya kualitas tidur, yang berdampak pada konsentrasi belajar dan kesehatan mental.

Ketua Tim Riset Cimanis, Hafiz Zahreza Ramadhan, menyebut ide pengembangan permen herbal tersebut berawal dari pengamatan keseharian di lingkungan sekolah dan pertemanan.

“Banyak teman sebaya kami yang mengalami kesulitan tidur karena terlalu sering begadang. Dari situ kami berpikir untuk mencari solusi yang alami, aman, dan mudah dikonsumsi oleh remaja,” ujar Hafiz, dikutip laman Kemenag.

Ia menjelaskan bahwa inspirasi utama datang dari tanaman ketnip (catnip) yang kerap tumbuh liar di sekitar permukiman. Tanaman ini selama ini dikenal luas sebagai tanaman yang berefek menenangkan bagi kucing, namun jarang diteliti manfaatnya untuk manusia.

“Kami mempelajari berbagai referensi ilmiah dan menemukan bahwa ketnip memiliki kandungan yang dapat memberikan efek relaksasi ringan. Dari situlah muncul gagasan untuk mengembangkannya menjadi permen herbal,” jelasnya.

Berdasarkan kajian literatur ilmiah, tim kemudian meramu Cimanis dengan mengombinasikan tiga bahan herbal utama, yakni ketnip, kamomil, dan kayu manis. Masing-masing bahan dipilih karena memiliki fungsi saling melengkapi dalam memberikan efek relaksasi.

“Kami memilih ketnip karena mengandung nepetalactone yang bersifat sedatif ringan. Kamomil memiliki apigenin yang membantu menenangkan saraf, sementara kayu manis memberi aroma sekaligus rasa yang menenangkan,” terang Hafiz.

Pengembangan produk dilakukan secara berkelanjutan selama lima bulan, terhitung sejak September 2025 hingga Januari 2026. Dalam rentang waktu tersebut, tim menjalani proses uji coba berulang hingga 14 kali untuk mendapatkan formulasi bahan, takaran dosis, serta suhu pemasakan yang tepat.

“Tantangan terbesar adalah menyeimbangkan takaran bahan agar tetap aman tetapi efektif. Beberapa kali percobaan gagal, namun kami terus memperbaiki hingga menemukan formulasi yang paling optimal,” ungkapnya.

Untuk menilai efektivitas Cimanis, tim melakukan uji organoleptik kepada 12 responden yang terdiri dari 10 siswa dan 2 guru MAN 13 Jakarta yang memiliki keluhan sulit tidur. Pengujian dilakukan selama satu hingga dua pekan dengan menilai aspek rasa, aroma, serta efek yang dirasakan setelah konsumsi.

“Dari hasil uji coba, permen Cimanis bekerja rata-rata 1–3 jam setelah dikonsumsi. Responden juga memberikan tanggapan positif, baik dari segi rasa maupun efek relaksasi yang dirasakan,” tambah Hafiz.

Guru pembimbing riset MAN 13 Jakarta, Shiva Dewi Motiah, menilai inovasi ini merupakan hasil dari proses pembelajaran berbasis riset yang serius dan terstruktur.

“Siswa tidak langsung menentukan ide, tetapi terlebih dahulu membaca berbagai jurnal ilmiah sebagai referensi. Mereka belajar meneliti secara sistematis, sehingga karya yang dihasilkan benar-benar berbasis riset,” ujar Shiva.

Menurutnya, keunggulan Cimanis terletak pada bentuknya yang praktis menyerupai permen lollipop, sehingga lebih menarik dan mudah dikonsumsi oleh remaja. Selain itu, aspek keamanan juga menjadi perhatian utama dalam perancangannya.

“Produk ini dirancang agar menarik, aman, dan relevan dengan kebutuhan remaja masa kini. Takaran gula serta komposisi bahan juga sudah diperhitungkan dengan cermat,” jelasnya.

Saat ini, Cimanis masih berada pada tahap pengembangan dan belum diproduksi secara luas. Produk tersebut masih memerlukan pengujian laboratorium lanjutan, konsultasi dengan tenaga medis, serta proses sertifikasi halal dan perizinan dari BPOM. Apabila kelak dipasarkan, harga Cimanis diperkirakan berada di kisaran Rp25.000 hingga Rp50.000 per kemasan.


(ACF)
TAGs:
Posted by Achmad Firdaus