Tren Kopi Yaman Meledak di AS: Kafe Timur Tengah Menjamur, Tawarkan Pengalaman Unik Tanpa Alkohol

N Zaid - Kuliner 05/05/2026
Tren Kopi Yaman Meledak di AS. Foto: AP
Tren Kopi Yaman Meledak di AS. Foto: AP

Oase.id - Negara Yaman yang dikenal sebagai salah satu pelopor kopi dunia kini kembali mencuri perhatian global. Namun kali ini bukan sekadar biji kopi, melainkan budaya ngopi khas Yaman yang tengah booming di Amerika Serikat.

Dalam beberapa tahun terakhir, kafe bergaya Yaman berkembang pesat di berbagai kota di AS. Data dari Technomic menunjukkan jumlah gerai dari enam jaringan utama meningkat 50 persen sepanjang tahun lalu menjadi 136 lokasi. Angka ini belum termasuk puluhan kafe independen yang juga menyajikan kopi dan teh khas Yaman.

Buka Hingga Dini Hari, Jadi Alternatif Hiburan
Popularitas kafe Yaman tidak lepas dari konsep yang berbeda. Banyak gerai buka hingga larut malam, bahkan melewati pukul 03.00, terutama saat Ramadan. Hal ini menjadikannya alternatif tempat berkumpul bagi masyarakat yang tidak mengonsumsi alkohol.

“Di Timur Tengah, kehidupan malam itu ya di kedai kopi. Orang berkumpul, berbincang, bermain kartu. Kami ingin membawa suasana itu ke sini,” ujar Ahmad Badr, pemilik waralaba Arwa Yemeni Coffee di California.

Ekspansi Pesat, Tak Hanya di Kota Besar
Kafe Yaman banyak bermunculan di wilayah dengan populasi Arab-Amerika tinggi seperti Michigan, California, dan Texas. Namun ekspansi kini meluas ke berbagai kota lain seperti Alpharetta (Georgia), Overland Park (Kansas), hingga Portland (Maine).

Salah satu pemain utama, Arwa Yemeni Coffee, telah memiliki 11 gerai di AS dan tengah mengembangkan sekitar 30 lokasi baru. Pendiri sekaligus pemiliknya, Faris Almatrahi, menyebut ekspansi ini juga dipengaruhi kerinduan diaspora Yaman akibat konflik berkepanjangan di negara asal sejak 2014.

“Kami ingin menghadirkan pengalaman Yaman di sini, karena banyak dari kami tidak bisa pulang,” ujarnya.

Interior kafe pun dirancang khas, dengan nuansa gurun, lengkungan bergaya masjid, hingga dekorasi yang terinspirasi dari petani kopi Yaman.

Diminati Semua Kalangan, Viral di Media Sosial
Menariknya, pelanggan kafe Yaman tidak hanya berasal dari komunitas Arab. Riset Datassential menunjukkan konsumen AS semakin tertarik pada cita rasa global dan pengalaman autentik, yang juga didorong oleh tren media sosial.

Menu yang ditawarkan pun unik, mulai dari teh Adeni yang kaya rempah hingga qishr—minuman tradisional dari kulit buah kopi. Minuman populer seperti latte disajikan dengan sentuhan khas seperti madu dan rempah.

Salah satu pelanggan, Cindy Donovan, mengaku menemukan kafe Yaman lewat pencarian internet dan langsung tertarik. “Rasanya lebih halus, kaya, tapi tidak terlalu berat. Rempah seperti kapulaga benar-benar menonjol,” katanya.

Teknik Tradisional Jadi Daya Tarik
Berbeda dengan kafe modern, banyak kafe Yaman masih mempertahankan metode tradisional. Kopi diracik manual dengan campuran rempah khas atau hawaij, yang bisa berisi kapulaga, jahe, kayu manis, hingga pala.

“Minuman kami tidak dibuat dengan mesin otomatis. Semua diracik manual untuk mendapatkan rasa dan warna yang sempurna,” kata Mohammed Nasser dari Haraz Coffee House.

Warisan Sejarah dan Harapan Ekonomi
Kopi memiliki akar sejarah panjang di Yaman. Menurut National Coffee Association, tanaman kopi mulai dibudidayakan di Yaman sejak abad ke-15 dan sempat mendominasi perdagangan global selama ratusan tahun.

Kini, di tengah konflik dan kemiskinan—di mana lebih dari 80 persen penduduk hidup dalam keterbatasan menurut Food and Agriculture Organization—kopi kembali menjadi harapan ekonomi baru.

“Kami bukan sekadar menjual kopi, tapi menjadi duta budaya. Kami ingin menunjukkan keramahan dan kekayaan tradisi kami kepada dunia,” kata Almatrahi.

Fenomena ini menunjukkan bahwa di balik secangkir kopi, tersimpan cerita panjang tentang budaya, identitas, dan harapan dari sebuah negara yang tengah berjuang.(arabnews)


(ACF)
TAGs:
Posted by Achmad Firdaus