Kisah Imam Syafii: Ketika Pandangan Mata Mempengaruhi Cahaya Ilmu

N Zaid - Kisah Inspiratif 11/01/2026
 Kisah Imam Syafii: Ketika Pandangan Mata Mempengaruhi Cahaya Ilmu. Ilustrasi: Pixabay
Kisah Imam Syafii: Ketika Pandangan Mata Mempengaruhi Cahaya Ilmu. Ilustrasi: Pixabay

Oase.id - Imam Syafi’i dikenal sebagai salah satu ulama terbesar dalam sejarah Islam. Beliau bukan hanya pendiri mazhab fiqih yang diikuti jutaan umat Muslim di dunia, tetapi juga sosok yang masyhur karena kekuatan hafalan, ketajaman akal, dan ketakwaannya sejak usia muda.

Namun, di balik keagungan ilmunya, Imam Syafi’i pernah mengisahkan sebuah pengalaman yang sangat menyentuh tentang betapa sensitifnya hati seorang penuntut ilmu terhadap maksiat, sekecil apa pun itu.

Hafalan Imam Syafi’i yang Terganggu

Dikisahkan bahwa pada suatu waktu, Imam Syafi’i merasa hafalannya tidak sekuat biasanya. Padahal, beliau dikenal mampu menghafal satu halaman kitab hanya dengan sekali membaca. Kondisi ini membuat beliau gelisah dan merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Imam Syafi’i kemudian mendatangi gurunya, Imam Waki’ bin Jarrah, untuk mengadukan kegelisahan tersebut. Beliau menyampaikan bahwa hafalannya terasa melemah dan tidak setajam sebelumnya.

Nasihat Sang Guru

Mendengar hal itu, Imam Waki’ memberikan nasihat yang kemudian menjadi sangat terkenal dan sering dikutip dalam kajian-kajian ilmu:

“Ilmu itu adalah cahaya,
dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat.”

Nasihat ini begitu menancap di hati Imam Syafi’i. Beliau lalu merenung dan mengingat kembali perbuatannya. Dalam perenungan itu, Imam Syafi’i teringat bahwa beliau pernah tidak sengaja melihat betis seorang wanita saat berjalan di suatu tempat.

Meskipun kejadian itu tidak disengaja dan hanya sesaat, Imam Syafi’i merasa bahwa pandangan tersebut telah meninggalkan bekas pada hatinya dan memengaruhi kejernihan hafalannya.

Kepekaan Hati Seorang Ulama

Kisah ini menunjukkan betapa bersih dan sensitifnya hati para ulama salaf. Apa yang bagi kebanyakan orang mungkin dianggap remeh, bagi Imam Syafi’i justru menjadi sebab untuk bermuhasabah dan memperbaiki diri.

Beliau tidak menyalahkan keadaan, tidak mencari pembenaran, tetapi justru menyalahkan dirinya sendiri dan meningkatkan penjagaan terhadap pandangan.


(ACF)
Posted by Achmad Firdaus