Hadits Pelacur yang Memberi Minum Anjing: Jangan Salah Paham tentang Jalan Menuju Surga
Oase.id - Hadits tentang seorang pelacur yang memberi minum anjing kehausan lalu diampuni dosanya dan dimasukkan ke surga sering kali disalahpahami oleh masyarakat. Tidak sedikit yang memahami hadits ini secara keliru, seolah-olah berbuat satu kebaikan kecil bisa “menebus” dosa besar tanpa harus meninggalkan maksiat.
Ustadz Qarni Idrus, asal Perlis Malaysia, menegaskan, kesalahan memahami hadits ini berbahaya karena dapat membentuk cara pandang yang salah terhadap amal, taubat, dan hubungan manusia dengan Allah.
Apa yang Sebenarnya Kita Minta Saat Berdoa Ingin Masuk Surga?
Ketika seseorang berdoa, “Ya Allah, dekatkanlah aku dengan surga,” sesungguhnya ia sedang meminta agar Allah mengilhamkan jalan-jalan menuju surga. Jalan itu bukan hanya berupa ibadah ritual, tetapi juga tercermin dalam akhlak, cara berinteraksi, dan sikap kepada sesama makhluk.
Di sinilah hadits tentang pemberian minum kepada anjing sering disalahartikan.
Riwayat Hadits: Bukan Sekadar Memberi Minum
Dalam sebagian riwayat disebutkan seorang perempuan pezina, dan dalam riwayat Imam Muslim disebutkan seorang laki-laki yang dikenal sebagai pelaku maksiat. Intinya orang yang diceritakan itu melihat seekor anjing yang sangat kehausan, hingga menjulurkan lidah dan tubuhnya tampak lemah.
Dalam riwayat laki-laki tersebut, ia turun ke dalam sumur, menggigit sepatunya, mengambil air dengan penuh kesulitan, lalu memanjat kembali demi memberi minum anjing itu. Perbuatannya bukan perbuatan setengah-setengah, tetapi usaha sungguh-sungguh yang lahir dari rahmat dalam hati.
Lalu apa yang terjadi setelah itu?
Kunci Hadits Ini: Taubat dan Perubahan Hidup
Kesalahan terbesar dalam memahami hadits ini adalah anggapan bahwa orang tersebut masuk surga hanya karena memberi minum anjing, lalu tetap melanjutkan perzinaan dan maksiatnya.
Padahal, menurut para ulama dan penjelasan Ustadz Qarni Idrus, kebaikan tersebut menjadi pintu hidayah. Setelah berbuat baik, Allah mengilhamkan kepadanya taubat. Ia berhenti dari perbuatan zina, memperbaiki amal, menjaga ketaatan, dan istiqamah hingga wafat. Itulah sebab ia menjadi ahli surga.
Bukan karena maksiatnya dianggap remeh, dan bukan pula karena satu amal kecil menghapus seluruh dosa tanpa taubat.
Bahaya Pemahaman yang Keliru
Jika hadits ini dipahami tanpa konteks, muncul anggapan berbahaya:
“Tidak apa-apa terus berbuat dosa, yang penting sesekali berbuat baik.”
Inilah yang disebut sebagai mempermainkan agama. Ada orang yang ringan memberi makan, ringan bersedekah, tetapi sangat lambat ketika diajak meninggalkan maksiat atau memperbaiki ibadah. Bahkan ada yang merasa aman dengan amal minimal, sementara maksiat dijalani tanpa rasa bersalah.
Ini bukan zuhud, melainkan kelalaian.
Zuhud yang Keliru: Minimal dalam Kebaikan, Maksimal dalam Maksiat
Fenomena yang sering terjadi di masyarakat adalah “zuhud dalam kebaikan, tetapi tidak zuhud dalam maksiat.” Dalam berbuat baik, seseorang memilih level paling minimum. Namun dalam kesenangan, kemaksiatan, dan kelalaian, ia justru merasa nyaman dan betah.
Misalnya, merasa cukup dengan sesekali bersedekah, memberi makan orang, atau membantu masjid, tetapi enggan belajar Al-Qur’an padahal memiliki waktu dan kemampuan. Ketika diajak belajar, alasannya selalu sama: sibuk, tidak pandai, atau merasa sudah cukup dengan amal yang ada.
Padahal, jika seseorang benar-benar tidak mampu, membantu orang lain yang berilmu memang bisa menjadi jalan pahala. Namun jika seseorang mampu belajar dan sengaja memilih malas, maka sikap itu tidak mendatangkan pahala sebagaimana yang ia sangka.
Pelajaran Penting dari Hadits Ini
Hadits tentang memberi minum anjing mengajarkan beberapa hal penting:
Rahmat Allah bisa datang dari amal sekecil apa pun, jika dilakukan dengan keikhlasan dan akhlak yang hidup.
Kebaikan sejati melahirkan taubat dan perubahan, bukan pembenaran maksiat.
Tidak ada konsep “aman dalam dosa” hanya karena sesekali berbuat baik.
Amal harus membawa perbaikan hidup, bukan sekadar formalitas.
Hadits ini jelas bukan dalil untuk meremehkan dosa, melainkan bukti bahwa Allah membuka pintu hidayah melalui akhlak dan kasih sayang. Namun pintu itu harus diikuti dengan taubat, perubahan, dan istiqamah.
Jika tidak, maka kebaikan yang dilakukan justru berubah menjadi alasan untuk menipu diri sendiri—dan itu jauh lebih berbahaya daripada dosa yang disadari.
(ACF)