Apa Hukumnya dalam Islam Makan dengan Tangan Kiri atau Kidal

N Zaid - Adab Makan dan Minum 29/12/2025
Apa Hukumnya dalam Islam Makan dengan Tangan Kiri atau Kidal. Foto: Pixabay
Apa Hukumnya dalam Islam Makan dengan Tangan Kiri atau Kidal. Foto: Pixabay

Oase.id - Di tengah masyarakat, persoalan makan dengan tangan kiri sering memunculkan perdebatan. Tidak jarang, orang yang makan dengan tangan kiri langsung ditegur keras, bahkan dianggap melakukan dosa besar. Lantas, bagaimana sebenarnya pandangan Islam tentang hal ini?

Buya Yahya, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah, memberikan penjelasan yang tenang, proporsional, dan penuh hikmah.

Makan dengan Tangan Kiri: Bukan Haram, tapi Makruh

Menurut Buya Yahya, makan dengan tangan kiri tidaklah haram. Namun, perbuatan tersebut masuk dalam kategori makruh, yaitu perbuatan yang sebaiknya ditinggalkan, meskipun tidak berdosa jika dilakukan.

Makruh bukanlah sesuatu yang terpuji, tetapi juga bukan larangan keras. Karena itu, seseorang yang makan dengan tangan kiri tidak pantas disikapi dengan kemarahan berlebihan, seolah-olah ia melakukan perbuatan haram.

Sunnah Nabi ﷺ: Makan dengan Tangan Kanan

Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk makan dan minum dengan tangan kanan. Sunnah ini mengandung adab, kemuliaan, dan ketaatan kepada Nabi.

Buya Yahya menegaskan, jika seseorang sudah mengetahui bahwa makan dengan tangan kanan adalah sunnah Nabi, lalu sengaja menolak melakukannya karena sikap menentang sunnah—misalnya berkata, “Saya tidak mau makan dengan tangan kanan meskipun Nabi mengajarkan demikian”—maka sikap tersebut bisa menjadi haram, karena mengandung unsur pengingkaran terhadap sunnah Nabi.

Namun, jika seseorang makan dengan tangan kiri bukan karena menolak sunnah, melainkan karena kebiasaan atau ketidaksengajaan, maka hukumnya tetap makruh, bukan haram.

Bagaimana dengan Orang Kidal?

Buya Yahya memberi penekanan khusus bagi orang yang kidal. Menurut beliau, tingkat kemakruhan orang kidal lebih ringan dibandingkan orang yang sebenarnya terbiasa dengan tangan kanan, tetapi sengaja memilih tangan kiri.

Meski demikian, Buya Yahya tetap menganjurkan agar orang kidal berlatih menggunakan tangan kanan, setidaknya untuk makan dan minum. Hal ini bukan paksaan, melainkan latihan cinta kepada sunnah Nabi ﷺ.

Beliau memberikan contoh sederhana:
Orang yang terbiasa makan dengan tangan kanan, jika mencoba makan dengan tangan kiri, tetap bisa, meskipun tidak senyaman biasanya. Maka sebaliknya, orang yang kidal pun masih bisa berlatih menggunakan tangan kanan, kecuali jika memang tangan kanannya memiliki keterbatasan medis.

Beragama Jangan Berlebihan

Buya Yahya mengingatkan agar umat Islam tidak bersikap berlebihan dalam beragama. Jangan sampai perkara makruh diperlakukan seperti perkara haram.

Menegur orang yang makan dengan tangan kiri boleh dengan cara yang lembut, apalagi jika ia bukan anak didik atau santri kita. Bukan dengan kemarahan, caci maki, atau seolah-olah ia melakukan dosa besar.

Islam adalah agama hikmah dan keseimbangan, bukan agama yang membuat orang merasa tertekan oleh hal-hal kecil yang sejatinya tidak diharamkan.

Berlatih Mengikuti Sunnah Adalah Pahala

Bagi orang kidal yang berusaha melatih diri menggunakan tangan kanan, Buya Yahya menyebutnya sebagai jihad kecil yang berpahala besar. Setiap usaha mengikuti sunnah Nabi ﷺ, meski terasa berat, dicatat sebagai amal kebaikan di sisi Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

Karena itu, sunnah Nabi tidak boleh diremehkan, namun juga tidak disikapi dengan sikap kasar.

 


(ACF)
Posted by Achmad Firdaus