Kisah Haru Seorang Ibu Mualaf di Ujung Usia: Kalau Begitu, Islamkanlah Aku
Oase.id - Sebuah kisah menyentuh tentang hidayah di akhir hayat diungkap dalam ceramah Ustadz Syamsul Arifin Nababan, pendakwah Islam yang merupakan seorang mualaf. Ia menceritakan bagaimana ibundanya yang saat itu masih beragama Kristen, akhirnya memeluk Islam dua bulan sebelum wafat, setelah berjuang melawan penyakit berat.
Peristiwa itu bermula pada tahun 2006. Sang ibu jatuh sakit setelah mengalami infeksi parah di bagian lidah yang kemudian berkembang menjadi kanker. Kondisinya memburuk dengan cepat.
“Saya bilang, ‘Mak, Mama mau enggak saya ajak ke Jakarta berobat?’ Dia jawab, ‘Ah, enggak mau, nanti kau islamkan aku,’” kisahnya.
Ia pun menenangkan ibunya dan berjanji hanya ingin berbakti sebagai anak. Setelah diyakinkan, sang ibu akhirnya bersedia dibawa ke Jakarta untuk menjalani pengobatan, meski sempat ragu dengan kondisi ekonomi anaknya.
“Dia kaget lihat rumah kontrakan saya. Dia kira saya sudah kaya di Jakarta. Saya bilang, Allah Maha Kaya. Jangan takut. Saya ingin berbakti sama mama,” tuturnya.
Hasil pemeriksaan medis menunjukkan kanker yang diderita tergolong ganas. Dokter menyarankan tindakan biopsi dan rangkaian radiasi. Biaya pengobatan tidak kecil, namun ia berusaha mencari pinjaman demi pengobatan ibunya.
“Saya tunjukkan uang ke mama di kasir, ‘Mak, nih banyak uang.’ Padahal itu hasil ngutang. Biar mama tenang,” ujarnya.
Permintaan Doa di Tengah Sakit
Setelah sekitar lima bulan dirawat, sang ibu mulai berbicara tentang kemungkinan terburuk. Dalam satu percakapan, ia menyampaikan permintaan yang tak terduga.
“Dia bilang, ‘Amang, ini mama enggak ada lagi harapan hidup. Kalau aku nanti mati, maunya kau mendoakan mama.’”
Ia mengaku heran. Sebagai Muslim, ia mempertanyakan mengapa justru dirinya yang diminta mendoakan, bukan anak lain yang seiman dengan ibunya saat itu.
“Saya bilang, ‘Kenapa minta doa dari aku? Aku kan Muslim.’
"Dia jawab, 'Aku lihat cuma kau yang paling peduli, bertanggung jawab dengan mamak'."
"Enggak ada gunanya aku berdoa, enggak sampai'," timpal Ust Nababan lagi.
Ia lalu menjelaskan bahwa doa seorang Muslim untuk orang yang berbeda akidah tidak bisa dilakukan dalam konteks tersebut. Jawaban itu justru memantapkan niat sang ibu.
“Dia bilang, ‘Kalau begitu islamkanlah aku.’”
Mantap Memilih Islam
Awalnya ia mengira ucapan itu muncul karena tekanan sakit. Namun keesokan harinya, sang ibu kembali menegaskan keinginannya.
“Besoknya dia tanya, ‘Kapan mama diislamkan? Nanti keburu mati,’ katanya. Saya kaget. Ini benar-benar hidayah,” ujarnya.
Ia pun meminta izin kepada dokter untuk membawa ibunya pulang sementara, lalu menghadirkan pengurus lingkungan sebagai saksi. Meski kondisi lidah sudah rusak parah, sang ibu tetap berusaha mengucapkan syahadat.
“Terbata-bata lidahnya, tapi dia syahadat. Habis itu saya suruh sujud.”
Momen sujud pertama itu menjadi pengalaman spiritual yang sangat membekas bagi sang ibu.
“Dia nangis, lalu pingsan. Setelah sadar, saya tanya apa yang dia rasakan. Dia bilang, ‘Umurku sudah 65 tahun, belum pernah kepalaku menyentuh bumi untuk sujud kepada Tuhan. Tadi dadaku berdebar-debar.’”
Wafat Dua Bulan Setelah Syahadat
Setelah proses pengislaman, sang ibu kembali dirawat di rumah sakit. Dua pekan kemudian ia mengalami koma dan wafat sekitar satu setengah bulan setelahnya.
“Alhamdulillah, dua bulan sebelum meninggal dia masuk Islam,” kata Ustadz Nababan.
Kisah ini kerap ia sampaikan sebagai pelajaran tentang bakti anak kepada orang tua dan keyakinan bahwa hidayah bisa datang kapan saja, bahkan di detik-detik terakhir kehidupan.
(ACF)