Manfaatkan Waktu Perjalanan dengan Salat, Jangan Biarkan Berlalu Sia-sia

N Zaid - Bulan Safar 31/12/2025
Pahala saat perjalanan. Foto: Pixabay
Pahala saat perjalanan. Foto: Pixabay

Oase.id - Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Ayat ini mengajarkan kepada kaum Muslimin agar selalu mencari ilmu dan petunjuk dalam setiap perkara agama. Salah satu hal penting yang sering luput dari perhatian banyak orang adalah bagaimana memanfaatkan waktu, khususnya saat melakukan perjalanan jauh.

Tidak sedikit orang yang menghabiskan waktu berjam-jam di perjalanan. Rasa bosan, lelah, dan jenuh kerap menyertai perjalanan tersebut. Padahal, waktu yang panjang itu sejatinya bisa diisi dengan amalan yang sangat dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu salat.

Salat, Amalan yang Paling Dicintai Allah

Salat adalah amalan yang paling dicintai Allah dan menjadi ibadah yang paling utama bagi seorang hamba. Bahkan, kecintaan Allah kepada hamba-Nya pun sangat erat kaitannya dengan salat. Oleh karena itu, setiap kesempatan yang memungkinkan untuk mendirikan salat semestinya tidak disia-siakan.

Jika seseorang melakukan perjalanan jauh dan bukan sebagai pengemudi kendaraan, maka ia memiliki kesempatan besar untuk memanfaatkan waktu tersebut dengan salat sunnah. Ia dapat melaksanakan salat dua rakaat demi dua rakaat (mathnā mathnā), selama tidak berada pada waktu-waktu yang dilarang untuk salat.

Tata Cara Salat Sunnah di Kendaraan

Islam adalah agama yang penuh kemudahan. Dalam kondisi perjalanan, syariat memberikan keringanan dalam pelaksanaan salat sunnah. Seseorang yang sedang berada di dalam kendaraan dan bukan sebagai pengemudi diperbolehkan melaksanakan salat tanpa harus menghadap kiblat.

Salat dilakukan dengan cara duduk di tempatnya, lalu mengisyaratkan rukuk dan sujud. Isyarat sujud dibuat lebih rendah daripada isyarat rukuk sebagai bentuk pembeda antara keduanya. Dengan cara ini, seorang Muslim tetap dapat beribadah kepada Allah meskipun berada dalam perjalanan panjang.

Keringanan ini menunjukkan betapa Islam mendorong umatnya untuk terus beribadah dalam berbagai keadaan, tanpa memberatkan dan tanpa menghilangkan esensi ibadah itu sendiri.

Perjalanan Jauh, Kesempatan Mendekat kepada Allah

Menurut Syaikh Sa'ad bin Turki Al-Khotslan, ulama Arab Saudi, waktu perjalanan sejatinya adalah waktu luang yang sangat berharga. Jika diisi dengan salat, zikir, dan ibadah lainnya, maka rasa bosan dan lelah akan berubah menjadi pahala dan ketenangan hati. Perjalanan yang panjang pun menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah, bukan sekadar aktivitas fisik yang melelahkan.

Maka, sudah sepatutnya setiap Muslim menjadikan perjalanan sebagai ladang amal. Selama bukan waktu terlarang untuk salat dan kondisi memungkinkan, manfaatkanlah waktu tersebut dengan salat sunnah, karena salat adalah ibadah yang paling dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk senantiasa memanfaatkan waktu dengan kebaikan dan menjadikan setiap perjalanan sebagai jalan menuju ridha-Nya. Aamiin.


(ACF)
TAGs:
Posted by Achmad Firdaus