Keteladanan Fatimah az-Zahra, Putri Rasulullah yang Tegar Sejak Usia Dini
Oase.id - Sayyidah Fatimah az-Zahra radhiyallahu ‘anha masih berusia sekitar lima tahun ketika ayahnya, Nabi Muhammad ﷺ, pertama kali menerima wahyu dari Allah subhanahu wa ta'ala. Sejak usia sangat belia, Fatimah telah menjadi saksi langsung berbagai bentuk penindasan dan perlakuan keji yang diterima Rasulullah ﷺ dari kaum Quraisy yang menentang dakwah Islam.
Suatu ketika, Fatimah menemani ayahnya ke Ka’bah di Makkah. Saat Rasulullah ﷺ sedang bersujud dalam salat, sejumlah musuhnya dengan sengaja meletakkan kotoran dan isi perut unta yang telah mati di punggung beliau. Beban itu membuat Nabi ﷺ tidak mampu bangkit dari sujudnya.
Fatimah yang saat itu masih anak-anak menyaksikan peristiwa tersebut dengan hati pilu. Ia segera menghampiri ayahnya, membersihkan kotoran itu dari punggung Rasulullah ﷺ sambil menangis melihat perlakuan kejam yang diterima ayah tercintanya.
Setelah wafatnya Khadijah radhiyallahu ‘anha, ibu Fatimah, peran Fatimah dalam kehidupan Rasulullah ﷺ semakin besar. Ia merawat, menghibur, dan menjaga ayahnya dengan penuh kasih sayang. Karena kedalaman cintanya itu, Fatimah dijuluki Ummu Abiha, yang berarti “ibu bagi ayahnya”.
Meski telah menikah dan tinggal bersama suaminya, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Fatimah tetap memperhatikan Rasulullah ﷺ. Ia kerap mengirimkan makanan kepada ayahnya, meski dirinya sendiri sering hidup dalam keterbatasan. Rasulullah ﷺ pun melakukan hal yang sama kepada putrinya.
Fatimah juga dikenal sangat peduli kepada kaum fakir dan orang-orang yang membutuhkan. Dalam kondisi lapar, ia tetap mendahulukan orang lain. Ia memasak untuk para pejuang dan turut menguatkan semangat mereka. Sifat dermawan itu diwarisinya langsung dari Rasulullah ﷺ, begitu pula kelembutan dan kefasihannya dalam berbicara.
Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih mirip Rasulullah ﷺ dalam cara berbicara, duduk, dan sikap selain Fatimah.”
Jika Fatimah datang, Rasulullah ﷺ akan berdiri menyambutnya, menciumnya, dan mempersilakannya duduk di tempat beliau.
Meski sangat mencintai putrinya, Rasulullah ﷺ tidak pernah memanjakan Fatimah secara berlebihan. Hal ini membentuk pribadi Fatimah yang sederhana dan jauh dari rasa berhak atas keistimewaan duniawi.
Suatu ketika, Fatimah mengeluhkan kepada Ali bahwa tangannya melepuh akibat pekerjaan rumah. Ali menyarankan agar ia meminta seorang pembantu kepada Rasulullah ﷺ. Awalnya Fatimah merasa sungkan, namun akhirnya mereka menyampaikan permintaan tersebut. Rasulullah ﷺ tidak mengabulkannya, tetapi justru memberikan nasihat yang lebih berharga.
Dalam riwayat Imam Bukhari, Ali menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Maukah aku ajarkan sesuatu yang lebih baik daripada pembantu? Jika kalian hendak tidur, bacalah Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 34 kali.”
Fatimah menerima nasihat itu dengan lapang dada, karena ia meyakini petunjuk Rasulullah ﷺ selalu membawa kebaikan.
Fatimah az-Zahra dikenal sebagai salah satu dari empat wanita dengan iman paling sempurna. Ia juga dijuluki Az-Zahra, yang berarti “yang bercahaya”, karena wajah dan akhlaknya yang memancarkan cahaya keteladanan. Ia disebut sebagai pemimpin para wanita di surga.
Fatimah setia mendampingi Rasulullah ﷺ hingga saat-saat terakhir beliau di dunia. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah ﷺ membisikkan dua pesan rahasia kepadanya. Bisikan pertama membuat Fatimah menangis, sementara bisikan kedua membuatnya tersenyum. Belakangan ia menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ memberitahunya tentang wafatnya, lalu mengabarkan bahwa Fatimah akan menjadi anggota keluarganya yang pertama menyusul beliau.
Sekitar empat hingga enam bulan setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, Fatimah pun berpulang. Ia berwasiat agar dimakamkan pada malam hari demi menjaga kehormatannya.
Sepanjang hidupnya, Fatimah adalah sosok istri yang tekun, ibu dari empat anak, sekaligus perempuan yang aktif membantu masyarakat Muslim. Di tengah kesibukan rumah tangga, ia tetap melayani umat dan beribadah dengan penuh ketaatan.
Jauh sebelum perdebatan modern tentang peran perempuan, kehidupan Fatimah az-Zahra telah menunjukkan bahwa seorang Muslimah mampu menjalani banyak peran sekaligus—dan menunaikannya dengan ketakwaan, keikhlasan, dan kemuliaan akhlak. (WhyIslam.org)
(ACF)