Bagaimana Jika Tetangga Menganut Faham Syiah?

N Zaid - Kerukunan dan Toleransi 15/03/2026
Bagaimana Jika Tetangga Menganut Faham Syiah? Ilustrasi: Pixabay
Bagaimana Jika Tetangga Menganut Faham Syiah? Ilustrasi: Pixabay

Oase.id - Bagaimana sikap seorang Muslim sunni jika memiliki tetangga yang beraliran Syiah? Pertanyaan ini sering muncul di tengah masyarakat yang hidup dalam lingkungan yang beragam.

Dalam sebuah ceramahnya, dai Ahlus Sunnah Abdul Hakim Abdat menjelaskan bahwa Islam memiliki aturan jelas tentang hubungan bertetangga. Prinsip utamanya adalah tetap menunaikan hak tetangga, sekalipun mereka berbeda keyakinan.

Menurutnya, seorang Muslim bisa saja bertetangga dengan berbagai kalangan, mulai dari non-Muslim seperti Nasrani dan Yahudi hingga kelompok lain dalam Islam. Namun sikap yang diajarkan Rasulullah ﷺ tetap sama, yaitu berbuat baik kepada tetangga.

Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya.”
(HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)

Ustadz Abdul Hakim Abdat menjelaskan bahwa pada masa Nabi ﷺ, masyarakat hidup berdampingan dengan berbagai kelompok. Para sahabat tidak tinggal di lingkungan yang terpisah hanya dengan sesama Muslim.

Di Kota Medina saat itu, kaum Muslimin tinggal berdampingan dengan orang Yahudi dan kelompok lain. Bahkan sebagian tetangga para sahabat adalah non-Muslim.

Teladan Para Sahabat

Salah satu contoh akhlak sahabat adalah kisah Abdullah ibn Amr ibn al-As. Dalam ceramahnya, Ustadz Abdul Hakim Abdat menceritakan bahwa sahabat tersebut selalu memperhatikan tetangganya, termasuk yang beragama Yahudi.

Ketika ia menyembelih hewan, ia bertanya kepada keluarganya:

“Apakah tetangga kita yang Yahudi sudah diberi?”

Menurut Ustadz Abdul Hakim Abdat, sikap ini menunjukkan bahwa kebaikan kepada tetangga tidak didasarkan pada kesamaan agama, melainkan karena hak bertetangga yang diajarkan Islam.

Tetap Berbuat Baik Tanpa Mengikuti Keyakinannya

Meski demikian, beliau menegaskan bahwa bersikap baik tidak berarti mengikuti ajaran mereka. Jika seorang Muslim memiliki tetangga Syiah, maka ia tetap menjaga akidahnya dan tidak mengikuti ajaran yang berbeda.

“Kalau bertetangga ya bertetangga. Hak tetangga tetap ditunaikan. Tapi ajarannya jangan diikuti,” jelasnya dalam ceramah tersebut.

Kisah Sahabat yang Diganggu Tetangganya

Dalam ceramah itu, Ustadz Abdul Hakim Abdat juga menyampaikan kisah yang diriwayatkan dalam hadis sahih oleh Abu Dawud al-Sijistani.

Diceritakan ada seorang sahabat yang sering diganggu tetangganya. Ia kemudian mengadu kepada Nabi Muhammad ﷺ. Rasulullah ﷺ awalnya memintanya untuk bersabar.

Namun ketika gangguan terus berlanjut, Nabi ﷺ menyarankan agar sahabat tersebut mengeluarkan barang-barangnya ke pinggir jalan. Ketika orang-orang bertanya, sahabat itu menjelaskan bahwa tetangganya sering mengganggunya.

Mendengar hal tersebut, orang-orang yang lewat pun menegur tetangga tersebut hingga akhirnya ia meminta maaf dan berjanji tidak akan mengganggu lagi.

Menjaga Akhlak dalam Bertetangga

Melalui penjelasan tersebut, Ustadz Abdul Hakim Abdat menegaskan bahwa Islam sangat menekankan akhlak mulia dalam kehidupan bertetangga.

Seorang Muslim dianjurkan untuk tetap berbuat baik kepada tetangga, selama mereka tidak mengganggu atau memaksakan keyakinannya. Sikap ini menjadi bagian dari dakwah akhlak yang diajarkan Rasulullah ﷺ kepada umatnya.


(ACF)
Posted by Achmad Firdaus