Wanita Turki di Thrace Barat Menghidupkan Kembali Pakaian Era Ottoman

N Zaid - Turki 28/07/2023
Foto: Dailysabah
Foto: Dailysabah

Oase.id - Di Thrace Barat, wanita Turki yang tinggal di desa pegunungan Xanthi, sebuah kota di Yunani, berupaya melestarikan dan menghidupkan kembali pakaian tradisional yang berasal dari era Ottoman.

Di desa pegunungan Xanthi, tempat mereka tinggal, wanita Turki berusaha mewariskan budaya mereka kepada generasi mendatang dengan mengenakan pakaian yang mengingatkan masa lalu pada acara-acara khusus. Desa-desa seperti Dolaphan, Mustafçova dan Agnila termasuk di antara desa-desa di mana pakaian tradisional ini masih diproduksi dengan cara konvensional.

Menurut sulaman tersebut, berbagai pakaian warna-warni yang dikenakan menandakan status keuangan dan sosial pemakainya. Saat ini, di beberapa desa, wanita dan gadis muda setempat terus membuat pakaian yang unik dan beragam ini dengan menggunakan teknik menjahit tradisional.

Gülser Homko, seorang instruktur menjahit dan menyulam yang berafiliasi dengan Xanthi Turkish Union, menyatakan dalam sebuah wawancara dengan Anadolu Agency (AA) bahwa mereka ingin melestarikan budaya mereka. Dia menekankan bahwa setiap garmen itu istimewa tetapi juga menyebutkan biaya produksi yang tinggi, mencatat bahwa proses menjahit bisa memakan waktu lebih dari sebulan.

Homko menunjukkan bahwa pakaian tradisional dapat berbeda dari desa ke desa. “Dari penampilan seseorang, bisa diketahui dari desa mana mereka berasal, apakah mereka sedang berduka atau bahagia,” katanya.

Menurut Homko, gadis remaja memakai syal bunga dan gaun dengan warna seperti coklat, ungu dan biru, tergantung daerah mereka berada. Saat mencapai pubertas, mereka memakai syal merah yang dihiasi kerudung putih yang melambangkan kesucian.

Mengenai pemakaman, Homko menjelaskan gaun warna-warni boleh dikenakan, asalkan tidak ada perhiasan. "Kita berbicara tentang masyarakat yang dapat mengekspresikan dirinya secara singkat melalui pakaiannya."

Instruktur bordir Şerife Mustafaoğlu menegaskan bahwa motif yang digunakan pada pakaian daerah sama dengan yang digunakan pada periode Ottoman. "Pola yang ditemukan pada pakaian wanita sangat cocok dengan yang digunakan pada era Ottoman," kata Mustafaoğlu.

Mustafaoğlu menekankan bahwa pembuatan pakaian ini adalah proses yang menuntut dan memakan waktu, menekankan bahwa detail terkecil pun penting.

Tülay Kabza dari desa Mustafçova menyebutkan bahwa banyak orang, baik tua maupun muda, mengenakan pakaian daerah dalam kesehariannya, mengungkapkan harapan agar generasi mendatang tetap melestarikan pakaian adatnya.(dailysabah)
 


(ACF)
TAGs:
Posted by Achmad Firdaus