Perang Hunain: Ketika Jumlah Besar Tak Lagi Menjamin Kemenangan

N Zaid - Sirah Nabawiyah 01/02/2026
Ilustrasi Perang Hunain. Ilustrasi: AI Generated
Ilustrasi Perang Hunain. Ilustrasi: AI Generated

Oase.id - Perang Hunain adalah salah satu peristiwa besar dalam sejarah perjuangan Rasulullah ﷺ yang sarat dengan pelajaran iman, tauhid, dan keikhlasan. Perang ini terjadi tak lama setelah Fathu Makkah, tepatnya pada bulan Syawal tahun kedelapan Hijriah. Saat itu, kaum muslimin berada di puncak kekuatan—baik secara jumlah maupun posisi.

Namun justru di medan Hunain inilah Allah ﷻ mengingatkan umat Islam bahwa kemenangan tidak pernah ditentukan oleh angka, melainkan oleh pertolongan-Nya semata.

Latar Belakang Perang Hunain

Setelah Makkah berhasil ditaklukkan dan mayoritas penduduknya masuk Islam, suku Hawazin dan Tsaqif merasa terancam. Mereka khawatir giliran mereka akan diserang, sehingga memilih mendahului dengan menghimpun kekuatan besar untuk memerangi Rasulullah ﷺ.

Dipimpin oleh Malik bin ‘Auf An-Nadhri, pasukan Hawazin dan Tsaqif berangkat dengan jumlah sekitar 20 ribu orang. Mereka bahkan membawa serta harta benda, wanita, dan anak-anak—sebuah keputusan yang kelak menjadi bumerang.

Mendengar kabar tersebut, Rasulullah ﷺ segera keluar dari Makkah menuju Hunain. Beliau memimpin pasukan terbesar sepanjang sejarah dakwahnya, berjumlah sekitar 12 ribu orang: 10 ribu dari Madinah dan 2 ribu dari kalangan penduduk Makkah yang baru masuk Islam (ṭulaqā’).

Ujian di Awal Pertempuran

Besarnya jumlah pasukan muslim membuat sebagian orang merasa yakin berlebihan. Bahkan ada yang berkata, “Hari ini kita tidak akan kalah karena jumlah kita banyak.” Ucapan inilah yang kelak menjadi sebab teguran Allah ﷻ.

Pasukan musyrikin telah lebih dulu bersembunyi di celah-celah lembah Hunain. Saat pasukan muslim turun ke lembah pada waktu subuh, serangan mendadak pun dilancarkan. Panah dilepaskan dari segala arah. Barisan kaum muslimin kacau, dan sebagian besar mundur terpukul.

Peristiwa ini diabadikan Allah dalam Al-Qur’an:

“Pada hari Hunain, ketika kamu merasa bangga dengan jumlahmu, tetapi jumlah itu tidak memberi manfaat sedikit pun bagimu…”
(QS. At-Taubah: 25)

Keteguhan Rasulullah ﷺ di Tengah Kekacauan

Di saat pasukan tercerai-berai, Rasulullah ﷺ justru tetap berdiri teguh. Beliau tidak mundur selangkah pun. Dengan penuh keyakinan, beliau berseru:

“Aku adalah Nabi, tidak ada dusta. Aku adalah putra Abdul Muththalib.”

Bersama beliau hanya tersisa sekitar 80–100 sahabat setia, di antaranya Abu Bakar, Umar, Ali bin Abi Thalib, Al-‘Abbas, Usamah bin Zaid, dan beberapa sahabat utama lainnya.

Atas perintah Rasulullah ﷺ, Al-‘Abbas—yang dikenal bersuara lantang—memanggil para sahabat yang pernah berbaiat setia di bawah pohon Ridwan. Seruan itu menggugah hati mereka. Para sahabat pun berbalik, bahkan ada yang turun dari tunggangannya dan berlari kembali ke medan perang.

Turunnya Pertolongan Allah

Saat barisan kaum muslimin mulai kembali tersusun, Rasulullah ﷺ berdoa memohon pertolongan Allah. Beliau mengambil segenggam tanah dan melemparkannya ke arah musuh. Seketika, pasukan musyrikin porak-poranda.

Allah ﷻ menurunkan sakinah (ketenangan) kepada Rasul-Nya dan orang-orang beriman, serta menurunkan bala tentara yang tidak terlihat—para malaikat—sebagaimana ditegaskan dalam QS. At-Taubah ayat 26.

Kemenangan pun berbalik diraih kaum muslimin, bukan karena jumlah mereka, tetapi karena kembali bertawakal sepenuhnya kepada Allah.

Akhir yang Penuh Rahmat

Sisa pasukan Hawazin akhirnya masuk Islam. Mereka datang menemui Rasulullah ﷺ di Ji‘ranah, memohon ampun dan belas kasih. Rasulullah ﷺ memberi mereka pilihan: harta rampasan atau para tawanan. Mereka memilih para tawanan.

Tanpa ragu, Rasulullah ﷺ mengembalikan sekitar 6.000 tawanan—anak-anak dan perempuan—tanpa tebusan. Sikap mulia ini semakin melunakkan hati mereka dan meneguhkan keislaman banyak orang.

Bahkan Malik bin ‘Auf, mantan pemimpin musuh, kembali diangkat sebagai pemimpin kaumnya setelah masuk Islam.


(ACF)
Posted by Achmad Firdaus