Subuh di Pulau Penyengat, Menag Telusuri Jejak Peradaban Islam Melayu
Oase.id - Kapal yang membawa Menteri Agama Republik Indonesia beserta rombongan tiba di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, Rabu (14/1/2026), sebelum fajar menyingsing. Suasana pagi yang tenang menyambut kedatangan rombongan di pulau kecil yang menyimpan sejarah besar peradaban Islam Melayu.
Pulau Penyengat dikenal sebagai pusat Kesultanan Melayu Riau-Lingga sekaligus pusat perkembangan Islam dan literasi Melayu. Pengaruhnya tidak hanya terasa di wilayah Kepulauan Riau, tetapi juga menjadi bagian penting dalam pembentukan bahasa dan budaya Nusantara.
Setibanya di pulau menjelang Subuh, Menteri Agama berjalan di sekitar Masjid Raya Sultan Riau. Masjid berwarna kuning dan hijau itu berdiri megah sebagai saksi perjalanan dakwah, ilmu, dan kepemimpinan Islam Melayu sejak abad ke-19.
Menteri Agama kemudian memimpin Salat Subuh berjamaah bersama masyarakat setempat di Masjid Raya Sultan Riau. Ibadah berlangsung khusyuk, menyatukan pemimpin dan warga dalam kebersamaan spiritual.
Masjid Raya Sultan Riau dibangun sekitar tahun 1803 dan diselesaikan pada 1832. Bangunan ini memiliki keunikan pada material perekatnya yang menggunakan campuran putih telur, kapur, pasir, dan tanah liat, sehingga tetap kokoh hingga kini.
Masjid ini memiliki 13 kubah dan empat menara. Jumlah tersebut melambangkan 17 rakaat salat wajib dalam sehari semalam, mencerminkan nilai-nilai keislaman yang tertanam dalam arsitektur bangunan.
Di dalam masjid tersimpan sejumlah mushaf Al-Qur’an tulis tangan, salah satunya karya Abdullah Al-Ma’ruf yang ditulis pada 1867 saat menuntut ilmu di Mekkah. Mushaf ini menjadi bukti Pulau Penyengat pernah menjadi pusat penyalinan dan pembelajaran Al-Qur’an.
Usai Salat Subuh, Menteri Agama berziarah ke makam Engku Putri Raja Hamidah. Kompleks makam keluarga kerajaan Melayu tersebut terawat dengan baik dan ditandai kain kuning sebagai simbol kehormatan bangsawan.
Ziarah dilanjutkan ke makam Raja Ali Haji, ulama dan sastrawan besar yang dikenal sebagai perumus bahasa Melayu baku melalui karya Gurindam Dua Belas. Pemikiran Raja Ali Haji menjadi fondasi penting bagi lahirnya bahasa Indonesia.
Secara historis, Pulau Penyengat merupakan hadiah pernikahan Sultan Mahmud Syah kepada permaisurinya, Engku Putri Raja Hamidah, pada tahun 1805. Sejak itu, pulau ini berkembang menjadi pusat pemerintahan, keagamaan, dan intelektual Kesultanan Melayu Riau-Lingga.
Pulau ini juga memiliki peran strategis dalam perlawanan terhadap kolonialisme. Benteng Bukit Kursi yang dibangun oleh Raja Haji Fisabilillah menjadi simbol perjuangan rakyat Melayu mempertahankan kedaulatan wilayahnya.
Rombongan Menteri Agama kemudian mengunjungi Balai Adat Pulau Penyengat. Bangunan rumah panggung khas Melayu tersebut menyimpan pelaminan adat, galeri foto para sultan, serta berbagai artefak dan perlengkapan adat kerajaan.
Di bawah Balai Adat terdapat sumur air tawar berusia ratusan tahun. Meski berada dekat dengan laut, airnya tetap jernih dan tawar, serta hingga kini masih dimanfaatkan masyarakat.
Kunjungan berlanjut ke Balai Maklumat Indera Sakti, pusat dokumentasi naskah kuno Pulau Penyengat. Di tempat ini tersimpan sekitar 500 manuskrip beraksara Arab-Melayu yang mencakup bidang keagamaan, sastra, ilmu pengetahuan, dan administrasi kerajaan.
Balai Maklumat juga merekam sejarah Khutub Khanah Marhum Ahmadi, perpustakaan umum pertama di Nusantara yang berdiri pada 1886. Dari Pulau Penyengat, kegiatan penulisan dan percetakan buku berkembang pesat pada abad ke-19.
Kunjungan Menteri Agama ditutup dengan menyusuri Kampung Datuak bersama Gubernur Kepulauan Riau dan Kepala Kanwil Kemenag Kepri. Interaksi dengan warga menegaskan bahwa warisan sejarah tidak hanya dijaga melalui bangunan, tetapi juga melalui kehidupan sosial dan nilai spiritual yang terus diwariskan.
Pulau Penyengat hingga kini tetap menjadi simbol kejayaan, keilmuan, dan spiritualitas Melayu. Kunjungan ini menegaskan pentingnya merawat warisan Islam Nusantara sebagai sumber nilai dan inspirasi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.(kemenag)
(ACF)