Abu Bakar Ash-Shiddiq: Khalifah yang Mengembalikan Seluruh Hartanya kepada Umat Sebelum Wafat

N Zaid - Sahabat Nabi Muhammad 07/07/2026
Abu Bakar Ash-Shiddiq: Khalifah yang Mengembalikan Seluruh Hartanya kepada Umat Sebelum Wafat. Ilustrasi. Foto: AI Generated
Abu Bakar Ash-Shiddiq: Khalifah yang Mengembalikan Seluruh Hartanya kepada Umat Sebelum Wafat. Ilustrasi. Foto: AI Generated

Oase.id - Kekuasaan sering kali menjadi jalan bagi seseorang untuk mengumpulkan kekayaan. Namun, hal itu sama sekali tidak berlaku bagi Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Menjelang akhir hayatnya, khalifah pertama kaum muslimin itu justru memerintahkan agar seluruh harta yang masih berada di tangannya selama menjabat sebagai pemimpin diserahkan kepada penggantinya. Sikap tersebut menjadi bukti nyata betapa besar rasa tanggung jawabnya terhadap amanah yang diemban.

Abu Bakar Ash-Shiddiq RA (573–634 M) dikenal sebagai pemimpin yang menjadikan Al-Qur'an dan sunah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebagai pijakan utama dalam setiap kebijakan. Ketegasan, kejujuran, dan kesederhanaannya menjadi ciri kepemimpinan yang terus dikenang sepanjang sejarah Islam. Jabatan sebagai khalifah tidak pernah mengubah gaya hidupnya maupun cara pandangnya terhadap amanah.

Kesederhanaan itu telah tampak sejak awal beliau diangkat menjadi khalifah. Alih-alih menikmati fasilitas sebagai pemimpin negara, Abu Bakar justru tetap berjalan menuju pasar sambil membawa barang dagangan untuk mencari nafkah.

Di tengah perjalanan, Umar bin Al-Khattab RA dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah RA menghentikannya.

"Wahai Khalifah, hendak ke mana engkau?" tanya keduanya.

"Aku hendak ke pasar," jawab Abu Bakar.

Mereka pun kembali bertanya, "Apa yang akan engkau lakukan di pasar, padahal kini engkau memimpin kaum muslimin?"

Dengan sederhana beliau menjawab, "Kalau tidak demikian, bagaimana aku memenuhi kebutuhan keluargaku?"

Jawaban itu menunjukkan bahwa Abu Bakar tidak pernah menganggap jabatan sebagai alasan untuk hidup bergantung pada harta negara. Ia tetap merasa berkewajiban mencari rezeki secara halal sebagaimana sebelum menjadi khalifah.

Melihat kondisi tersebut, Umar bin Al-Khattab RA mengajak Abu Bakar bermusyawarah bersama para sahabat. Mereka kemudian menyepakati bahwa khalifah berhak menerima tunjangan dari Baitul Mal sebagai kompensasi karena seluruh waktunya dicurahkan untuk mengurus kepentingan umat. Namun, Abu Bakar hanya menerima tunjangan secukupnya untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarganya.

Kesederhanaan itu tidak pernah berubah hingga akhir hayatnya.

Kisah hari-hari terakhir Abu Bakar diriwayatkan oleh putrinya, Aisyah binti Abu Bakar RA. Dalam kitab 150 Qishah min Hayâti Abu Bakar Ash-Shiddiq karya Ahmad Abdul Al Al-Thahthawi (2016), disebutkan bahwa pada suatu hari Senin di bulan Jumadal Akhir, Abu Bakar mandi ketika cuaca sangat dingin. Setelah itu beliau terserang demam yang berlangsung selama sekitar lima belas hari.

Karena sakitnya semakin berat, Abu Bakar tidak lagi mampu menjadi imam shalat berjamaah. Beliau kemudian meminta Umar bin Al-Khattab RA menggantikannya mengimami kaum muslimin.

Seiring waktu, kondisi kesehatannya terus menurun. Para sahabat bergantian menjenguknya, termasuk Utsman bin Affan RA yang kerap berada di sisinya.

Ketika ada yang mengusulkan agar seorang tabib dipanggil untuk mengobatinya, Abu Bakar menolak dengan tenang. Beliau menyadari bahwa hidup dan mati sepenuhnya berada dalam ketentuan Allah subhanahu wa ta'ala. Perhatian utamanya bukan lagi soal kesembuhan, melainkan memastikan amanah kepemimpinannya selesai tanpa menyisakan hak orang lain.

Dalam keadaan sakit itulah Abu Bakar memanggil Aisyah.

"Wahai putriku, periksalah seluruh harta yang masih tersisa sejak aku menjadi khalifah, lalu serahkan semuanya kepada khalifah setelahku," pesannya.

Aisyah kemudian memeriksa seluruh harta peninggalan ayahnya. Ternyata yang tersisa hanyalah seorang pelayan dari Habasyah, seekor unta yang biasa digunakan untuk mengangkut air sekaligus diperah susunya, serta beberapa barang sederhana. Tidak ada emas, perak, maupun kekayaan yang melimpah.

Menjelang sakaratul maut, Aisyah sempat melantunkan syair tentang kefanaan hidup. Namun Abu Bakar menghentikannya dan meminta agar dibacakan firman Allah subhanahu wa ta'ala dalam Surah Qaf ayat 19 mengenai datangnya sakaratul maut. Beliau ingin detik-detik terakhir kehidupannya dipenuhi dengan ayat-ayat Allah, bukan sekadar untaian sastra.

Dalam wasiat terakhirnya, Abu Bakar kembali menegaskan bahwa selama memimpin kaum muslimin ia tidak pernah mengambil satu dinar ataupun satu dirham dari harta umat untuk kepentingan pribadi. Ia hidup sebagaimana rakyat kebanyakan, makan dari makanan yang sama dan mengenakan pakaian sederhana.

Seluruh harta yang masih dimilikinya—pelayan dari Habasyah, seekor unta pembawa air, dan sehelai kain beludru yang telah usang—diwasiatkan agar diserahkan kepada Umar RA sebagai khalifah berikutnya.

Amanah itu pun dilaksanakan setelah Abu Bakar wafat.

Saat seluruh peninggalan tersebut diserahkan kepadanya, Umar bin Al-Khattab RA tidak mampu membendung air mata. Ia menyadari betapa tinggi standar kejujuran dan integritas yang telah ditinggalkan pendahulunya. Umar bahkan mengatakan bahwa Abu Bakar telah membuat tugas para khalifah sesudahnya menjadi jauh lebih berat karena teladan yang begitu sempurna.

Kesederhanaan Abu Bakar bukan muncul karena keterbatasan ekonomi, melainkan pilihan hidup yang didasari ketakwaan. Dalam Wajâ'a Abû Bakr (2014), Khalid Muhammad Khalid menjelaskan bahwa Abu Bakar sengaja memilih hidup sederhana meskipun kondisi ekonomi kaum muslimin terus membaik.

Baginya, makanan yang halal meski sedikit jauh lebih berharga daripada kekayaan yang diperoleh melalui jalan yang meragukan. Ia memahami bahwa kemewahan dapat menjadi pintu masuk penyimpangan amanah. Karena itu, ia selalu berhati-hati dalam setiap urusan dan menjauhkan diri dari segala bentuk syubhat.

Prinsip tersebut selaras dengan teladan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, yang lebih memilih menahan lapar daripada mengonsumsi sesuatu yang belum jelas kehalalannya.

Perjalanan hidup Abu Bakar Ash-Shiddiq RA memperlihatkan bahwa kepemimpinan sejati tidak hanya diukur dari kemampuan mengelola negara, tetapi juga dari kesediaan menjaga amanah hingga akhir hayat. Ia membuktikan bahwa kekuasaan bukan sarana memperkaya diri, melainkan tanggung jawab besar yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah subhanahu wa ta'ala. Karena itulah, Abu Bakar dikenang sebagai salah satu pemimpin paling bersih, jujur, dan berintegritas dalam sejarah Islam.(sumber: Nyala Obor Integritas: Kisah Ulama Melawan Korupsi, laman Kemenag)

-

 


(ACF)
Posted by Achmad Firdaus