Ini Fakta Terowongan Silaturahmi Istiqlal - Gereja Katedral yang Perlu Kamu Tahu
Oase.id - Terowongan Silaturahmi merupakan jalur bawah tanah yang menghubungkan kawasan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral Jakarta. Terowongan ini dibangun sebagai bagian dari penataan kawasan di sekitar dua rumah ibadah tersebut.
Terowongan Silaturahmi diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 12 Desember 2024. Lokasinya berada di bawah Jalan Katedral, Jakarta Pusat, sehingga memungkinkan pejalan kaki berpindah antara kompleks Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral tanpa melintasi jalan raya di permukaan.
Panjang terowongan sekitar 28 meter dengan lebar sekitar 4 meter. Jalur ini dilengkapi fasilitas akses bagi penyandang disabilitas, seperti lift dan jalur landai, sehingga dapat digunakan oleh berbagai kalangan.
Masjid Istiqlal merupakan masjid nasional Indonesia yang diresmikan pada 22 Februari 1978. Bangunan ini memiliki kapasitas lebih dari 100.000 jemaah dan menjadi masjid terbesar di Asia Tenggara.
Sementara itu, Gereja Katedral Jakarta merupakan gereja bergaya neo-Gotik yang mulai digunakan pada 1901. Gereja ini menjadi pusat Keuskupan Agung Jakarta dan merupakan salah satu bangunan cagar budaya di ibu kota.
Jarak antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral hanya dipisahkan oleh Jalan Katedral. Sebelum terowongan dibangun, akses pejalan kaki dilakukan melalui penyeberangan di permukaan jalan.
Pembangunan Terowongan Silaturahmi menjadi bagian dari proyek penataan kawasan Masjid Istiqlal yang mencakup revitalisasi area sekitar, peningkatan fasilitas pejalan kaki, dan pengembangan ruang publik di kawasan tersebut.
Saat ini, Terowongan Silaturahmi menjadi salah satu fasilitas yang dapat digunakan pengunjung yang datang ke Masjid Istiqlal maupun Gereja Katedral Jakarta. Selain berfungsi sebagai jalur penghubung, terowongan ini juga menjadi salah satu objek yang dikunjungi wisatawan di kawasan Jakarta Pusat.
Terowongan Silaturahmi bukan sekadar infrastruktur yang menghubungkan dua rumah ibadah, melainkan simbol hidup berdampingan dalam keberagaman.
"Jika berjalan dari arah masjid, kita mendengar suara bedug. Dari arah katedral terdengar lonceng gereja. Namun ketika berada di tengah terowongan, kedua suara itu dapat didengar bersamaan. Di situlah makna Indonesia, perbedaan tidak saling meniadakan, tetapi hidup berdampingan dalam harmoni," kata Menteri Agama Nasaruddin Umar.
(ACF)