Pedagang Bazar Ramadan di Malaysia Naikkan Harga, Biaya Bahan Baku Jadi Penyebab
Oase.id - Bazar Ramadan di Malaysia masih menjadi tujuan favorit warga untuk membeli hidangan berbuka puasa. Namun tahun ini, sejumlah pedagang terpaksa menyesuaikan harga jual akibat kenaikan biaya bahan baku dan sewa lapak. Kondisi tersebut membuat sebagian pengunjung mulai merasakan kenaikan harga makanan di bazar.
Bagi banyak keluarga di Malaysia, bazar Ramadan bukan sekadar tempat membeli makanan untuk berbuka. Tradisi ini juga menjadi momen berkumpul, bertemu teman, serta memilih hidangan favorit menjelang waktu berbuka.
Namun di beberapa kawasan seperti Taman Tun Dr Ismail, Shah Alam, dan Putrajaya, para pedagang mengaku tekanan biaya membuat mereka harus menaikkan harga.
Harga Murtabak Naik
Di bazar TTDI, Hafiz Che Usin (36) tampak sibuk menyiapkan murtabak di atas wajan besar saat antrean pembeli terus bertambah.
Pedagang yang juga menjalankan usaha katering kecil di luar Ramadan itu mengatakan harga murtabak naik dalam beberapa tahun terakhir.
“Tiga tahun lalu murtabak ayam RM6, tahun lalu RM8, sekarang RM10. Untuk murtabak daging sekarang RM12,” katanya.
Menurut Hafiz, kenaikan harga daging, telur, tepung, hingga margarin membuat pedagang sulit mempertahankan harga lama.
Ia juga harus membayar sekitar RM400 untuk menyewa lapak bazar tahun ini, belum termasuk biaya listrik dan operasional lain.
“Banyak orang mengira pedagang mendapat untung besar selama Ramadan. Padahal setelah dipotong biaya sewa, bahan baku, dan gaji pekerja, keuntungannya tidak sebesar yang dibayangkan,” ujarnya.
Pedagang Ayam Panggang Ikut Naikkan Harga
Di bazar Shah Alam Stadium, pedagang Nor Aida (44) menata ayam panggang di bawah lampu pemanas agar tetap segar.
Ia menjual nasi ayam seharga RM12 per porsi, naik dari RM9 pada tahun lalu. Minuman seperti bandung dan jus jagung manis dijual sekitar RM5 per gelas.
Menurut Nor Aida, kenaikan harga ayam, sayuran, hingga kemasan plastik ikut mendorong kenaikan harga jual.
“Saya berusaha tidak menaikkan harga terlalu banyak, tetapi kadang memang tidak ada pilihan,” katanya.
Ia juga melihat perubahan perilaku pembeli. Jika sebelumnya satu orang membeli satu porsi makanan, kini banyak pasangan yang memilih berbagi satu porsi atau satu minuman.
Menu Khas Kelantan Ikut Terdampak
Sementara itu di Putrajaya, pedagang asal Kelantan, Hafizah Che Wan (42), menjual nasi kerabu dan ayam percik yang menjadi salah satu menu populer di bazar.
Tahun ini, satu set nasi kerabu dengan ayam percik dijual RM16. Lauk tambahan seperti kuah percik dijual sekitar RM5.
Hafizah mengatakan kenaikan harga santan menjadi salah satu faktor utama meningkatnya biaya produksi.
“Santan sekarang hampir RM17 per kilogram. Padahal itu bahan utama untuk kuah percik dan kerabu. Kalau harga bahan dasar naik, kami tidak bisa menjual dengan harga tahun lalu,” ujarnya.
Meski menghadapi kenaikan biaya, para pedagang berharap bazar Ramadan tetap ramai pengunjung. Bagi banyak warga Malaysia, berburu hidangan berbuka di bazar masih menjadi bagian penting dari tradisi Ramadan. (malaymail)
(ACF)