Salat Tepat Waktu demi Mendapatkan Cinta-NYA

Octri Amelia Suryani - Salat 03/05/2021
Ilustrasi. Foto: Dok/MoslemWeb
Ilustrasi. Foto: Dok/MoslemWeb

Oase.id - Salat adalah ibadah wajib bagi umat Islam. Salat termasuk dalam rukun Islam yang kedua, sedangkan rukun Islam yang pertama adalah mengucapkan dua kalimat syahadat. Dari urutan rukun Islam tersebut, sudah sangat jelas bahwasanya salat adalah poin kedua yang sangat penting setelah seseorang dikatakan muslim. Lalu baru disusul dengan poin-poin setelahnya.

Hal ini tertulis dalam hadis Riwayah Bukhari nomor 7 berbunyi:


حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى قَالَ أَخْبَرَنَا حَنْظَلَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ خَالِدٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Musa dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Hanzhalah bin Abu Sufyan dari 'Ikrimah bin Khalid dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Islam dibangun di atas lima (landasan); persaksian tidak ada ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadlan." (H.R. Bukhari, No. 7)

Dalam hadis tersebut sangat jelas, salat adalah salah satu landasan berdirinya Islam setelah meyakini bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT. Dengan melalui sejarah yang panjang, terbentuklah macam-macam salat yang harus dikerjakan sehari-hari beserta jumlah rakaatnya masing-masing.

Terbentuklah salat lima waktu sehari semalam, yakni Salat Isya 4 rakaat, Subuh 2 rakaat, Zuhur 4 rakaat, Ashar 4 rakaat, dan Magrib 3 rakaat.

Ada juga hadis yang menyebutkan bahwa salat adalah amalan yang paling dicintai oleh Allah. Itu tertulis dalam H.R. Bukhari nomor 496 yang berbunyi:

حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ هِشَامُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ الْوَلِيدُ بْنُ الْعَيْزَارِ أَخْبَرَنِي قَالَ سَمِعْتُ أَبَا عَمْرٍو الشَّيْبَانِيَّ يَقُولُ حَدَّثَنَا صَاحِبُ هَذِهِ الدَّارِ وَأَشَارَ إِلَى دَارِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي بِهِنَّ وَلَوْ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Walid Hisyam bin 'Abdul Malik berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah berkata, telah mengabarkan kepadaku Al Walid bin Al 'Aizar berkata, Aku mendengar Abu 'Amru Asy Syaibani berkata, "Pemilik rumah ini menceritakan kepada kami -seraya menunjuk rumah 'Abdullah - ia berkata, "Aku pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, "Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah?" Beliau menjawab: "Shalat pada waktunya." 'Abdullah bertanya lagi, "Kemudian apa kagi?" Beliau menjawab: "Kemudian berbakti kepada kedua orang tua." 'Abdullah bertanya lagi, "Kemudian apa kagi?" Beliau menjawab: "Jihad fi sabilillah." 'Abdullah berkata, "Beliau sampaikan semua itu, sekiranya aku minta tambah, niscaya beliau akan menambahkannya untukku." (H.R. Bukhari, No. 496)

Hadis di atas terang-terangan menjadikan salat sebagai poin utama ibadah yang dicintai oleh Allah selain berbakti kepada kedua orang tua. Tetapi bukan salat sekadar salat, melainkan mengerjakan tepat waktu tanpa harus mengulur-ngulurnya. Sebagaimana hadis pendukung yang diriwayatkan oleh Muslim:

و حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ الْعَنْبَرِيُّ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ الْوَلِيدِ بْنِ الْعَيْزَارِ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا عَمْرٍو الشَّيْبَانِيَّ قَالَ حَدَّثَنِي صَاحِبُ هَذِهِ الدَّارِ وَأَشَارَ إِلَى دَارِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي بِهِنَّ وَلَوْ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ وَزَادَ وَأَشَارَ إِلَى دَارِ عَبْدِ اللَّهِ وَمَا سَمَّاهُ لَنَا

Artinya: Dan telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Mu'adz al-Anbari telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari al-Walid bin al-Aizar bahwa dia mendengar Abu Amru asy-Syaibani dia berkata, telah menceritakan kepadaku pemilik rumah ini -dan dia menunjuk pada rumah Abdullah-, dia berkata, "Saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, 'Amalah apakah yang paling dicintai Allah? ' Beliau menjawab: "Shalat pada waktunya." Aku bertanya, "Kemudian apa?" Beliau menjawab: "Berbakti kepada kedua orang tua." Saya bertanya, "Kemudian apa lagi?" Beliau menjawab: "Jihad di jalan Allah." Abdulah bin Mas'ud berkata, "Beliau menceritakan itu semua kepadaku, sekiranya aku minta tambah, pasti akan beliau tambah." Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dengan sanad ini semisalnya. Dan dia menambahkan, "Dan dia menunjuk kepada rumah Abdullah," namun dia tidak menyebutkan namanya untuk kami." (H.R. Muslim No. 122)

Untuk mengerjakan salat tepat pada waktunya bukan karena bilangan rakaat yang terdiri dalam masing-masing salat. Biasanya waktu masuknya salat dengan berbagai macam kegiatan, itulah yang membuat kita sulit untuk melakukan shalat tepat waktu jika tidak dibiasakan.

Seperti pada waktu subuh, di saat mereka masih tertidur pulas. Pada waktu zuhur di saat jam istirahat kerja yang terkadang tidak konsisten. Pada waktu ashar di saat masih dalam perjalanan pulang kerja. Melihat dari beberapa pengalaman, bahwa waktu inilah yang sering membuat kita terpaksa untuk mengulur waktu salat.

Tetapi berlandaskan penggalan kata “cinta” yang terdapat dalam hadis di atas, alangkah baiknya jika kita mendekatkan diri pada sesuatu yang kita inginkan dengan cara melakukan apa yang dia cintai. Layaknya sebuah pasangan. Ada yang rela mati-matian menyukai apa yang disukai oleh pasangannya, sedangkan dia tidak menyukainya. Bahkan sedikit pun tidak ada keuntungan baginya jika ia mencintai hal tersebut, melainkan perhatian yang dia inginkan dari pasangannya.

Kenapa hal ini tidak bisa kita lakukan untuk mendekatkan diri kita kepada Sang Pencipta? Sedangkan kita sangat menginginkan surga-NYA. Maka marilah cintai apa yang Dia (Tuhan) cintai, agar kasih dan sayang-Nya selalu tercurah kepada siapa pun yang menginginkan dan melaksanakannya.


(MBM)
TAGs:
Posted by Misbahol Munir