Apa Itu Penyakit Meningitis? Ini Gejala dan Cara Pencegahannya
Oase.id– Dunia permusikan Indonesia tengah berduka lantaran kehilangan sosok Glenn Fredly. Pria pelantun lagu Januari itu dikabarkan meninggal dunia pada Rabu, 9 April 2020 lantaran mengidap meningitis.
Meningitis merupakan peradangan pada meninges atau pelapis sistem saraf pusat yang terdiri dari tiga selaput penutup organ otak dan sumsum tulang belakang. Meningitis dapat terjadi ketika cairan di sekitar meninges terinfeksi virus, bakteri, atau jamur.
Gejala dan efek yang ditimbulkan
Menurut Dr. dr. Jo Edy Siswanto Sp.A (K) dari Rumah Sakit Royal Taruma, Jakarta Gejala meningitis biasanya panas tinggi secara tiba-tiba, mual, muntah, nyeri kepala hebat, dan kejang-kejang. Namun, gejala tersebut juga biasa terjadi pada penyakit umum lainnya.
"Gejalanya banyak tidak spesifik kalau belum diperiksa di laboratorium. Mirip gejala penyakit pada umumnya bahkan DBD juga bisa mirip sebagian gejalanya," papar dr. Jo Edy, sebagaimana Oase.id lansir dari Medcom.id pada Kamis, 9 April 2020.
Gejala lainnya, sakit kepala pada belakang leher.
"Kadang sensitif pada cahaya yang sangat terang, ada ruang kulit yang tidak bisa hilang dengan penekanan, menetap pada penekanan yang keras bisa menjadi pertanda meningitis," tutur dia.
Baca: Menyimpulkan Penyakit dari Internet alias Self-diagnosis, Bahayakah?
Kondisi juga disertai dengan tidak sadarnya pasien pada lingkungan sekitar. Mulai dari kehilangan kesadaran ringan hingga berat. Kerap kali terjadi rasa gelisah yang luar biasa.
"Gejala lain adalah terjadinya kejang, drowling air liur. Kejang dapat berlangsung lama lebih dari 15 menit. Lidah dapat berdarah banyak karena tergigit," imbuhnya.
Disertai juga dengan banyak kondisi yang tidak mengenakkan dalam tubuh, sangat berbeda dari kondisi di hari sebelumnya. Bahkan, sulit berkomunikasi baik secara verbal maupun nonverbal. Hal itu karena pasien merasa ada sesuatu yang hebat di kepalanya.
Sementara itu, gejala meningitis terkadang bisa hilang ketika diberikan antibiotik. Dengan demikian, gejalanya semakin tidak jelas.
Selanjutnya, kata Dr. Jo, gejala yang lebih pasti dapat diketahui dengan pemeriksaan khusus arah syaraf oleh dokter. Biasanya akan dilakukan pemeriksaan darah, pemeriksaan fisik secara detil, hingga wawancara dengan keluarga.
Pencegahan
Penyakit meningitis atau radang selaput otak berisiko mematikan. Supaya tidak terlambat, jangan gegabah dan ketahuilah dahulu cara penanganan yang tepat berdasarkan anjuran dari Dr. dr. Jo Edy.
"Pencegahan karena gejalanya bersifat umum, tentunya bagaimana kita menjaga daya tahan tubuh kita. Dengan daya tahan tubuh yang baik, penyakit oleh virus dan bakteri bisa kita cegah," ujar dokter yang ramah ini.
Salah satu cara untuk memperkuat daya tahan tubuh ialah dengan menjaga asupan nutrisi agar tepat. Mengonsumsi jajanan sembarang akan rentan terkena virus dan penyakit, mulai dari pencernaan hingga penyakit lainnya.
Baca: Jika Pandemi Korona Sampai Ramadan, Ini Tips #DiRumahAja Selama Bulan Puasa
Langkah selanjutnya, harus bisa menjaga lingkungan, terutama kebersihan. Apalagi jika tinggal di area padat penduduk dan banyak penyakit, karena dapat memudahkan penularan penyakit.
Data meningitis
Dalam laman resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI disebutan bahwa WHO mencatat selama 2018 dilaporkan 15.574 kasus suspek meningitis dengan 1.074 kematian di sepanjang meningitis belt.
Meningitis belt adalah wilayah endemis benua Afrika (lebih dikenal dengan African Meningitis Belt atau sabuk meningitis benua Afrika) yang membentang dari Senegal di bagian barat hingga Ethiophia di bagian timur dengan total 26 negara di dalamnya.
(SBH)