Persatuan dalam Keberagaman di Antara para Peziarah Global yang Merayakan Idul Fitri di Makkah

Oase.id - Suasana cinta, keberagaman, dan kegembiraan merasuki tempat-tempat suci Masjidil Haram saat para peziarah dari seluruh dunia berkumpul untuk merayakan Idul Fitri di tempat spiritual yang unik ini.
Hari pertama Idul Fitri diawali dengan salat subuh di masjid, di mana banyak jamaah yang mengenakan pakaian ihram putih — yang melambangkan persatuan dan keterpisahan dari urusan duniawi — berkumpul dalam ketaatan.
Para peziarah saling bertukar ucapan selamat dan doa yang hangat, memohon kepada Allah agar menerima ibadah mereka dan memberkati mereka di tahun mendatang.
Usai salat Idulfitri, kegembiraan menyebar di sepanjang jalan-jalan Mekkah, yang dipenuhi para peziarah yang mengekspresikan kebahagiaan mereka melalui doa dan ucapan salam dalam berbagai bahasa.
Pameran yang semarak ini mewujudkan kekayaan keragaman budaya yang menjadi ciri khas Masjidil Haram, menciptakan suasana ketenangan spiritual yang mendalam.
Banyak peziarah memanfaatkan kesempatan ini untuk menuntaskan ritual umrah atau mengitari Kakbah.
Perayaan tersebut meliputi berbagai kegiatan keagamaan dan sosial. Setelah salat dan tawaf, sebagian jamaah mengunjungi tempat-tempat suci lainnya seperti Jabal Al-Noor (Gunung Cahaya) dan Gua Hira, sementara yang lain menjelajahi pasar-pasar yang ramai di Mekkah untuk membeli hadiah dan cenderamata.
Pasar-pasar ini penuh dengan energi saat para jamaah membeli tasbih, Al-Qur'an, oud, dan penganan tradisional Mekkah.
Nasser Bukhari, seorang pedagang pakaian di distrik pusat, mengamati bahwa para jamaah dengan bangga mengenakan pakaian tradisional dari tanah air mereka, mengubah Masjidil Haram menjadi kanvas hidup keberagaman Islam.
Sebagian mengenakan gaun jalabiyya putih, sementara yang lain tampil dengan pakaian tradisional bersulam warna-warni.
Wanita sering memilih abaya warna-warni yang dihiasi dengan pola rumit yang mencerminkan warisan budaya mereka, dengan sebagian memadukan pakaian tradisional dengan abaya sebagai perayaan acara yang menggembirakan tersebut.
Hotel dan restoran di kota ini ramai pengunjung selama Idul Fitri, menawarkan hidangan perayaan khusus. Pengunjung berkumpul di sekitar meja sarapan yang dipenuhi kurma, kue maamoul, dan kopi Saudi, sementara yang lain mencari hidangan lokal yang populer.
Kue tradisional Mekkah seperti laddu, mushabbak, zalabiya, dan debyaza berlimpah, saat para peziarah dari semua negara bersatu sebagai satu keluarga yang diikat oleh iman.
Semangat kemanusiaan Idul Fitri terlihat jelas di seluruh kota, dengan para relawan yang membagikan hadiah dan permen kepada anak-anak dan menyediakan makanan bagi mereka yang membutuhkan, sementara beberapa peziarah mengunjungi rumah sakit dan panti asuhan dengan membawa hadiah dan bantuan.
Saat malam tiba, Masjidil Haram yang diterangi lampu menciptakan pemandangan yang menakjubkan. Para peziarah melanjutkan ibadah mereka atau berjalan-jalan di halaman masjid, menikmati suasananya.
Yahya Noor, seorang dokter Suriah, menggambarkan perayaan Idul Fitri di kota itu: “Di sini, di Mekkah, Idul Fitri tidak hanya sekadar ucapan selamat dan makanan lezat, tetapi juga mencakup kegiatan amal dan solidaritas."
“Menyaksikan para relawan membagikan hadiah dan makanan kepada yang membutuhkan membuat saya merasa menjadi bagian dari komunitas Islam yang luas yang benar-benar peduli terhadap para anggotanya."
“Organisasinya sempurna, dengan arus jutaan peziarah yang berjalan lancar dan efisien,” lanjutnya.
“Ketika saya memasuki Masjidil Haram saat fajar Idul Fitri, saya terharu hingga menitikkan air mata. Melihat Kakbah yang diterangi lampu dikelilingi oleh para jamaah yang khusyuk membuat saya benar-benar menghargai keagungan tempat suci ini.
“Pertukaran berkat dan suasana kasih sayang membuat saya merasa seperti berada di tengah keluarga.” (arabnews)
(ACF)