9 Tahun Penembakan Masjid Quebec, Komunitas Muslim Kanada Desak Penghentian Islamofobia

N Zaid - Diskriminasi Islam 29/01/2026
Foto: Iqna
Foto: Iqna

Oase.id - Menjelang peringatan sembilan tahun penembakan Masjid Quebec, komunitas Muslim di Kanada bersama para pendukungnya kembali berkumpul. Bukan hanya untuk mengenang enam jemaah yang tewas, tetapi juga menyuarakan seruan mendesak agar retorika Islamofobia dihentikan.

Serangan bersenjata terjadi di Islamic Cultural Centre of Quebec pada 29 Januari 2017. Seorang pelaku melepaskan tembakan ke arah jemaah salat, menewaskan enam Muslim dan melukai sejumlah lainnya. Peristiwa ini tercatat sebagai serangan paling mematikan terhadap rumah ibadah dalam sejarah Kanada.

CEO National Council of Canadian Muslims (NCCM), Stephen Brown, mengatakan peringatan tragedi tersebut menjadi pengingat bahwa Islamofobia bukan sekadar ujaran kebencian.

“Islamofobia di Kanada bukan sesuatu yang sepele. Ini membunuh orang,” ujar Brown kepada Al Jazeera. Menurutnya, tragedi Quebec menunjukkan bahwa kebencian memiliki konsekuensi nyata dan mematikan.

Penembakan itu mengguncang komunitas Muslim Quebec, memicu aksi solidaritas nasional, serta menyoroti meningkatnya sentimen anti-Muslim secara global. Pemerintah Kanada kala itu mengecam serangan tersebut sebagai aksi terorisme dan berjanji menangani akar persoalan kebencian terhadap Muslim.

Pada 2021, pemerintah Kanada menetapkan 29 Januari sebagai Hari Nasional Peringatan Serangan Masjid Quebec dan Aksi Melawan Islamofobia. Namun Brown menilai, hampir satu dekade berlalu, pelajaran dari tragedi tersebut belum sepenuhnya dihayati.

“Setelah tragedi itu, ada upaya serius untuk merawat luka dan membangun jembatan antar komunitas. Tapi kini, terutama di Quebec, Islamofobia kembali digunakan sebagai alat politik,” ujarnya.

Kebijakan dan retorika sekularisme

Brown menyoroti sejumlah kebijakan Pemerintah Provinsi Quebec di bawah Partai Coalition Avenir Quebec (CAQ) yang dinilai kelompok HAM menyasar komunitas Muslim.

Sejak berkuasa pada 2018, CAQ mengesahkan Undang-Undang Bill 21 pada 2019, yang melarang sebagian aparatur publik mengenakan simbol keagamaan saat bertugas, termasuk hijab, sorban Sikh, dan kippah Yahudi. Pemerintah Quebec menyebut aturan ini sebagai bagian dari upaya menjaga sekularisme negara.

Namun, organisasi hak asasi manusia menilai kebijakan tersebut bersifat diskriminatif dan berdampak besar pada perempuan Muslim.

Dalam beberapa bulan terakhir, CAQ kembali mengajukan regulasi baru untuk memperkuat model sekularisme negara menjelang pemilu provinsi. Salah satunya adalah Bill 9, yang memperluas larangan simbol keagamaan ke tempat penitipan anak dan sekolah swasta, melarang penyediaan makanan halal dan kosher secara khusus, serta melarang praktik ibadah kolektif di ruang publik.

Menteri Sekularisme Quebec, Jean-François Roberge, menegaskan aturan itu tidak menargetkan kelompok agama tertentu. Namun Canadian Civil Liberties Association (CCLA) menyebut kebijakan tersebut menyamarkan diskriminasi atas nama sekularisme.

“Larangan ini secara tidak proporsional meminggirkan kelompok minoritas agama dan ras, terutama perempuan Muslim,” kata Direktur Program Kesetaraan CCLA, Harini Sivalingam.

Brown menilai kebijakan dan narasi semacam itu mengirim pesan berbahaya ke publik. “Seolah-olah menjadi Muslim yang taat dan terlihat adalah sesuatu yang salah atau berbahaya,” ujarnya.

Islamofobia masih meningkat

Di tingkat federal, Perwakilan Khusus Kanada untuk Penanggulangan Islamofobia, Amira Elghawaby, menyatakan pemerintah terus menunjukkan komitmen melalui Action Plan on Combatting Hate yang diluncurkan pada 2024.

Namun, data menunjukkan Islamofobia di Kanada masih meningkat. Statistik Kanada mencatat 211 kejahatan kebencian anti-Muslim pada 2023, melonjak 102 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka itu kembali naik pada 2024 dengan 229 kasus yang dilaporkan.

Elghawaby mengatakan data tersebut menegaskan bahwa kebencian masih menjadi ancaman serius. “Kanada memang dikenal sebagai negara yang ramah, tetapi kita tetap menghadapi polarisasi dan meningkatnya narasi ekstrem,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya terus mengingat tragedi Masjid Quebec agar tidak terulang. “Keluarga korban tidak ingin kehilangan orang tercinta menjadi sia-sia. Mereka ingin warga Kanada terus berdiri melawan Islamofobia dan menumbuhkan saling pengertian.”

“Sejarah bisa terulang jika kita gagal belajar dari masa lalu,” kata Elghawaby.(aljazeera)


(ACF)
Posted by Achmad Firdaus