Piala Dunia 2026 dan Jejak Muslim di Tim-Tim Elite Eropa: Membela Negara Minoritas Muslim, Bersinar di Panggung Dunia

N Zaid - Pemain Bola Muslim 21/06/2026
Piala Dunia 2026 dan Jejak Muslim di Tim-Tim Elite Eropa. Foto: AA
Piala Dunia 2026 dan Jejak Muslim di Tim-Tim Elite Eropa. Foto: AA

Oase.id - Piala Dunia FIFA 2026 menghadirkan catatan bersejarah dengan jumlah negara mayoritas Muslim terbanyak yang pernah tampil di ajang sepak bola paling bergengsi di dunia. Namun, kisah menarik turnamen ini tidak hanya datang dari negara-negara tersebut.

Di berbagai stadion Amerika Utara yang menjadi tuan rumah Piala Dunia, sejumlah pemain Muslim justru tampil sebagai bintang utama bagi negara-negara yang Islam bukan agama mayoritas. Mereka mengenakan seragam Prancis, Jerman, Spanyol, Inggris, hingga Belgia, tetapi tetap membawa identitas budaya dan warisan keluarga yang berakar dari dunia Muslim.

Fenomena ini mencerminkan perubahan sosial yang telah berlangsung selama beberapa dekade di Eropa, ketika generasi keturunan imigran dari Afrika Utara, Afrika Barat, Balkan, Turki, dan Asia Selatan kini menjadi bagian penting dari tim nasional masing-masing.

Prancis: Dembele dan Generasi Baru Les Bleus

Di skuad Prancis, perhatian dunia memang sering tertuju kepada sang kapten, Kylian Mbappe. Namun, kekuatan tim berjuluk Les Bleus itu juga ditopang sejumlah pemain Muslim yang memainkan peran sentral.

Nama paling menonjol adalah Ousmane Dembele, peraih Ballon d'Or 2025 yang dikenal sebagai salah satu penyerang paling berbahaya di turnamen. Pemain yang menjalankan ibadah Ramadan tersebut lahir di Prancis dari ayah berdarah Mali serta ibu keturunan Mauritania dan Senegal.

Selain Dembele, lini tengah Prancis masih mengandalkan N'Golo Kante yang selama bertahun-tahun dikenal luas karena kerendahan hati dan komitmennya terhadap ajaran Islam.

Di lini belakang, Ibrahima Konate menjadi salah satu pilar pertahanan, sementara Youssouf Fofana dan Rayan Cherki menambah kedalaman skuad dengan talenta yang berasal dari latar belakang keluarga imigran.

Jerman dan Kisah Anak-Anak Imigran

Timnas Jerman juga tidak lepas dari kontribusi pemain Muslim yang menjadi tulang punggung skuad.

Bek tangguh Antonio Rudiger telah berkembang menjadi pemimpin pertahanan Die Mannschaft. Pemain berdarah Sierra Leone itu beberapa kali berbicara secara terbuka mengenai keyakinannya dan aktif dalam kegiatan sosial di negara asal keluarganya.

Kisah serupa hadir melalui gelandang Nadiem Amiri. Keluarganya melarikan diri dari Afghanistan sebelum akhirnya membangun kehidupan baru di Jerman. Kini, Amiri menjadi simbol keberhasilan integrasi generasi kedua imigran di Eropa.

Sementara itu, penyerang Deniz Undav yang memiliki akar Turki terus memperkuat lini serang Jerman. Nama lain yang kerap dikaitkan dengan latar belakang Muslim adalah Leroy Sane, meski sang pemain sendiri jarang membahas kehidupan keagamaannya di ruang publik.

Lamine Yamal, Ikon Baru Muslim Eropa

Jika ada satu nama yang paling banyak dibicarakan sepanjang Piala Dunia 2026, sosok itu mungkin adalah Lamine Yamal.

Winger muda Spanyol berusia 18 tahun tersebut terus mencuri perhatian berkat penampilan gemilangnya bersama La Roja. Putra dari ayah berdarah Maroko itu secara terbuka menyatakan dirinya seorang Muslim dan menjadi inspirasi bagi banyak anak muda Muslim di Eropa maupun dunia.

Popularitas Yamal menjadikannya simbol generasi baru pemain sepak bola yang mampu menggabungkan identitas keagamaan, budaya keluarga, dan kebanggaan nasional dalam satu panggung yang sama.

Inggris, Swiss, dan Belgia

Di Inggris, nama Djed Spence mendapat sorotan setelah menjadi pemain Muslim pertama yang secara terbuka mewakili tim nasional senior Inggris pada 2025. Bek Tottenham Hotspur tersebut kerap berbicara mengenai pentingnya menjadi teladan bagi generasi muda.

Swiss masih mengandalkan kepemimpinan gelandang Granit Xhaka yang berasal dari komunitas Muslim Albania Kosovo. Di sektor pertahanan, ada pula Eray Comert yang memiliki akar keluarga Turki.

Sementara itu, Belgia menaruh harapan besar pada gelandang enerjik Amadou Onana. Pemain berdarah Senegal tersebut menjadi salah satu figur kunci dalam upaya Belgia mempertahankan statusnya sebagai salah satu kekuatan sepak bola Eropa.

Cermin Perubahan Wajah Eropa

Meningkatnya jumlah pemain Muslim di tim-tim elite Eropa tidak hanya menjadi cerita tentang sepak bola. Fenomena tersebut juga mencerminkan perubahan demografi dan sosial yang berlangsung di banyak negara selama beberapa dekade terakhir.

Bagi jutaan penggemar, para pemain ini bukan sekadar atlet profesional. Mereka menjadi simbol keberhasilan integrasi masyarakat multikultural sekaligus bukti bahwa olahraga mampu melampaui batas etnis, budaya, maupun agama.

Ketika Piala Dunia 2026 terus bergulir, perhatian umat Islam di seluruh dunia tidak hanya tertuju pada negara-negara mayoritas Muslim yang berlaga. Banyak pula yang mengikuti perjalanan para pemain Muslim yang membela negara-negara tempat Islam menjadi agama minoritas, tetapi tetap berhasil bersinar di panggung sepak bola terbesar dunia.

Kehadiran mereka menunjukkan bahwa sepak bola modern semakin mencerminkan wajah masyarakat yang beragam. Dari Paris hingga Madrid, dari Berlin hingga London, para pemain Muslim kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kisah sukses tim-tim nasional Eropa di panggung dunia. (muslimnetwork)


(ACF)
Posted by Achmad Firdaus