Kemenag Kembangkan ABATi untuk Standarkan Mutu Bahasa Arab di Mahad Aly

N Zaid - Kementerian Agama Pesantren 28/11/2025
Foto: Kemenag
Foto: Kemenag

Oase.id - Standarisasi kemampuan bahasa Arab di Ma’had Aly kini memasuki fase baru. Direktorat Pesantren Kementerian Agama (Kemenag) mulai mengembangkan instrumen asesmen nasional berbasis tradisi pesantren bernama ABATi (Arabic Benchmark Assessment Amtsilati). Langkah ini dinilai sebagai terobosan penting dalam peningkatan mutu akademik pendidikan tinggi pesantren.

Dikutip dari laman Kemenag, Instrumen tersebut dibahas dalam kegiatan Penguatan Manhaj Publikasi Ilmiah Ma’had Aly yang digelar di Jatibening pada 19–21 November 2025. Forum ini dihadiri perwakilan Majelis Masyayikh, Asosiasi Ma’had Aly Indonesia (AMALI), para muhadir/dosen, ketua LPPM Ma’had Aly, dan unsur Dewan Mahasantri.

Direktur Pesantren Kemenag, Basnang Said, menilai ABATi mampu menjawab kebutuhan seleksi dan pemetaan kemampuan santri secara objektif dan terukur. Menurutnya, pengembangan instrumen tes sejenis sudah menjadi keharusan agar proses pembinaan akademik di Ma’had Aly sesuai standar mutu nasional.

“Ma’had Aly membutuhkan alat ukur yang tidak hanya modern, tapi tetap berpijak pada ruh turats. ABATi hadir untuk menjembatani kedua pondasi itu,” tegas Basnang, Kamis (20/11).

ABATi terdiri dari tiga komponen utama, yakni fahm al-masmu’ (listening), tarakib (struktur bahasa), dan fahm al-maqru’ (membaca teks). Seluruh prosesnya dikembangkan dalam format digital berbasis web sebagai bentuk modernisasi sistem asesmen di lingkungan pesantren.

Kasubdit Pendidikan Ma’had Aly, Mahrus, menjelaskan bahwa ABATi memiliki karakter berbeda dari TOAFL maupun tes bahasa Arab di perguruan tinggi keagamaan Islam lainnya. Jika model asesmen umum lebih menekankan bahasa Arab modern, ABATi memadukan teks turats, qawa‘id pesantren, serta pemahaman kitab kuning.

“Distingsi inilah yang membuat ABATi lebih relevan menggambarkan kemampuan santri berbasis metodologi pesantren,” jelasnya.

Material instrumen juga bersifat fleksibel dan dapat dikembangkan antar-Ma’had Aly sesuai takhasus. Para peserta pertemuan pun mendukung penyempurnaan ABATi melalui kolaborasi nasional, termasuk perluasan bank soal dan penyesuaian kurikulum.

Selain pembahasan asesmen bahasa Arab, forum ini juga menyoroti pentingnya penguatan sistem publikasi ilmiah. Basnang menekankan bahwa keberadaan Direktorat Jenderal Pesantren nantinya harus didukung riset berkualitas, metode filologi dalam pengkajian manuskrip, serta karya ilmiah berbasis kitab kuning.

“Jika kita ingin Ditjen Pesantren berdiri kokoh, maka fondasinya harus kebijakan berbasis riset. Itu dimulai dari Ma’had Aly,” tandasnya.

Melalui penyusunan standar asesmen dan sistem akademik tersebut, Kemenag berharap seluruh Ma’had Aly dapat menjalankan seleksi dan pembinaan berbasis mutu, sekaligus menjaga identitas pendidikan pesantren di era modernisasi.


(ACF)
Posted by Achmad Firdaus