Jelang Ramadan, Festival Shaabanah Hidupkan Warisan Budaya Hijaz di Jeddah

Jelang Ramadan, Festival Sha’abanah Hidupkan Warisan Budaya Hijaz di Jeddah
Jelang Ramadan, Festival Sha’abanah Hidupkan Warisan Budaya Hijaz di Jeddah

Oase.id - Festival Sha’abanah, ajang perayaan budaya khas Hijaz, sukses menarik lebih dari 18.000 pengunjung di Abadi Al-Johar Arena, Jeddah, sebagai bagian dari rangkaian kegiatan menyambut bulan suci Ramadan.

Digelar selama tiga hari pada 22–24 Januari, festival ini diinisiasi oleh Vertex 33 dan menghadirkan pengalaman imersif yang memadukan tradisi, seni, serta kuliner lokal Hijaz dalam balutan konsep modern.

Beragam stan lokal meramaikan area festival, mulai dari butik yang menjual dupa oud dan parfum, sepatu buatan tangan, hingga aneka produk kerajinan hasil karya pelaku usaha kreatif setempat.

Tak hanya berbelanja, pengunjung juga dapat mengikuti berbagai lokakarya seni, seperti membuat gerabah dan mozaik. Sementara itu, anak-anak diajak berkreasi melalui kegiatan pembuatan lilin aromaterapi, kelas seni bersama Global Art, hingga merangkai benang menjadi gantungan kunci dan hiasan dinding bertema Ramadan.

Di area kuliner, pengunjung disuguhi hidangan khas Arab Saudi, kopi tradisional, serta aneka kudapan khas Ramadan yang menambah semarak suasana.

Festival ini juga dimeriahkan dengan pertunjukan seni tradisional, seperti tarian Yanbu’awi dan Al-Ajal, yang berpadu dengan musik dari DJ bergaya Saudi kontemporer. Perpaduan ini menghadirkan atmosfer yang memadukan hiburan modern dengan kekayaan budaya Hijaz.

Proyek Sha’abanah digagas oleh empat pegiat budaya muda, yakni Abdulaziz Al-Jehani, Abdulmajeed Abualkheer, Ghoroub Al-Barakati, dan Shahad Abualkheer.

CEO Vertex 33, Abdulaziz Al-Jehani, mengatakan festival ini terinspirasi dari keinginan menghidupkan kembali tradisi sosial masyarakat Hijaz yang dahulu mempererat kebersamaan menjelang Ramadan.

“Kami ingin menghadirkan acara yang bukan sekadar menghibur, tetapi juga bermakna. Sha’abanah menjadi ruang bagi masyarakat untuk kembali terhubung dengan warisan budaya dalam suasana yang segar dan relevan,” ujarnya.

Ia menambahkan, seluruh persiapan festival dilakukan dalam waktu sekitar tiga bulan, mulai dari riset budaya, pengembangan konsep, pemilihan tenant, hingga koordinasi di lapangan.

Respons positif dari pengunjung, lanjutnya, semakin menguatkan komitmen Vertex 33 untuk terus mendukung seniman lokal dan menjadikan budaya Hijaz sebagai elemen utama dalam acara-acara mendatang.

Para pelaku usaha yang terlibat pun mengapresiasi festival ini sebagai wadah promosi sekaligus sarana berinteraksi langsung dengan konsumen.

Afraa Damanhouri, pendiri RuaqAfraa, mengaku kegiatan lokakarya yang dihadirkannya membantu memperkenalkan proses pembuatan produk lilin aromaterapi kepada masyarakat.

“Workshop seperti ini sangat bermanfaat untuk edukasi sekaligus pengembangan usaha,” katanya.

Hal senada disampaikan Reem Awad, pendiri dan CEO Black Mus. Ia menyebut Sha’abanah memberi kesempatan untuk berbagi cerita di balik produk yang ditawarkan.

“Kami bisa bertemu langsung dengan pelanggan dan menjelaskan layanan serta produk yang kami miliki,” ujarnya.

Sementara itu, Chef Fayzah Al-Sulami, yang menjual rempah racikannya serta kopi putih khas Saudi, mengaku terkejut dengan antusiasme pengunjung.

“Penjualan sangat baik selama tiga hari festival. Banyak yang tertarik dengan produk rumahan yang saya buat,” katanya.

Menjelang Ramadan, sejumlah pelaku usaha juga menawarkan paket hampers, keranjang ibadah, kopi tradisional, serta rempah-rempah sebagai pilihan hadiah.

Pendiri Printful, Duaa Shukri, mengatakan Ramadan menjadi momentum berbagi.

“Kami menyiapkan paket hadiah khusus untuk anak-anak hingga dewasa, dengan konsep yang personal dan bermakna,” ujarnya.

Festival Sha’abanah pun menjadi bukti bahwa wisata budaya berbasis tradisi lokal tetap relevan dan diminati, terutama ketika dikemas dengan sentuhan kreatif dan kekinian.(arabnews)


(ACF)
Posted by Achmad Firdaus